Kupu-kupu Senja

pics from animals.desktopnexus.com
pics from animals.desktopnexus.com

 

Riana melihat pigura dihadapannya. Wajahnya tak lagi sama seperti yang terlihat disana. Kini ada lebam dan bekas luka menghiasi wajahnya. Ia menarik bibirnya, mencoba tersenyum. Namun diurungkan kembali niatnya karena terlalu sakit, entah karena masih ada memar disudut bibirnya atau karena kepura-puraan yang ia lakoni. Ia sudah lupa tepatnya kapan semua ini berawal. Yang pasti beberapa bulan sejak operasi pengangkatan rahimnya berlangsung, selalu saja paginya sibuk dengan ritual mengompres mata atau membalurkan obat merah dan minyak oles pada beberapa bagian tubuhnya.

Banyak orang bilang ini sepenuhnya salah Riana. David, suaminya menderita ketegangan jiwa akut karena sebagai istri ia tak bisa lagi memberikan keturunan, penerus segala usaha yang sekarang berkembang kian pesatnya. Banyak orang bilang wajar saja jika David mencari sumber kebahagian lain, semisal larut dalam minuman keras dan pelukan wanita lain. Perilaku itu benar-benar mencuri denyut napas Riana, membuat dada semakin sesak hampir meledak.

Janji untuk sehidup semati dan menerima satu sama lain apa adanya yang dulu mengalun begitu indah dengan mudahnya pecah, berbaur mesra dengan keegoisan. Kata-kata mesra yang mengisi episode awal pernikahan kini berganti dengan makian yang kian kelam. Selama dua tahun terakhir Riana seperti ada dalam lingkaran lara tak berujung.

“Kau ingin tinggal seperti begini terus disisa hidupmu? Bukankah ini menyakitkan jiwa dan raga?”

Riana terisak, tak mampu merangkai huruf membalas perkataan sahabatnya. Ia hanya menggeleng lalu membenamkan wajah pada kedua tangannya.

“Jika begitu pergilah. Hidupmu terlalu percuma jika hanya diisi dengan perih dan tangisan.”

“Tapi aku mencintai dia, aku yakin dia pasti kembali seperti dulu. Aku hanya perlu memperbaharui hatiku untuk selalu memaafkan.”

“Cinta itu selalu memaafkan, tetapi ia juga tak cukup bodoh untuk menyakiti dirinya kembali lagi.”

Kata-kata mulai menguap digantikan hening sarat arti. Kedua sahabat itu saling memandang, membingkai indah yang terperangkap dalam senja.

***

Riana mematut dirinya di cermin, ia tersenyum begitu lebar. Tak terasa lagi sakit dari luka yang masih tampak membiru disudut bibirnya. Disemprotkannya parfum beraroma vanilla pada lehernya. Ia menggenggam koper di tangan kirinya dengan mantap. Butuh keberanian yang tak sedikit untuk melangkahkan kaki keluar dari lingkaran yang melilitnya begitu erat. Malam-malam penuh pertimbangan dan rapal doa yang tak putus membawanya bermuara pada hari ini.

Riana melangkah begitu anggun menuju pintu keluar. Diliriknya sekilas mata David yang terhimpit mohon dan gelisah lalu tersenyum pada anggota polisi yang merangkai tangan suaminya dengan borgol.

“Sampai berjumpa di pengadilan David!”

Mentari perlahan turun mendekap malam. Riana berjalan membelah kerumunan warga yang riuh berdebat depan rumahnya. Perjuangan belum berakhir sampai disini. Jalan-jalan yang akan dilalui masih menanti dengan sejuta kejutan. Senja ini ia merasa begitu bebas seperti kupu-kupu meski kepergiannya diikuti tatapan menuduh dan penuh tanya. Dibentangkannya sayap lalu mulai terbang kembali.

30 thoughts on “Kupu-kupu Senja

  1. Aaahh ini keren pake banget.. pernah juga ngerasain jadi si tokoh utama itu. Butuh keberanian untuk bebas, dan mental kuat menghadapi prsangka org lain🙂 nice

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s