Mesin Waktu

Time machine logo

Kalau anda berhasil menemukan mesin waktu untuk kembali ke masa silam, apa yang akan anda lakukan? Apakah anda akan pulang dan memperbaiki beberapa kesalahan disana atau sekedar mengulang kenangan menyenangkan? Aku sempat berpikir demikian, akh betapa bahagianya aku jika benar-benar menemukannya.  Lalu apa apakah aku akan berhasil mengubah keadaan sekarang? Iya, pasti bisa jika berada dalam dunia imajiner, dalam dunia fantasi di kepalaku. Tapi di dunia nyata hal itu sangatlah tidak mungkin terjadi dan aku mungkin akan membenci yang namanya mesin waktu itu.

Berbicara tentang masa lampau, terkadang agak harap-harap cemas juga, apalagi ketika masa lampau itu menyebabkan kenangan buruk dan menyakitkan. Kita terkadang memupuk benci yang semakin dalam, entah pada kenangan atau pada oknum penyebabnya. Beberapa orang memilih mengindar dan berlari jika diberi kesempatan untuk berjumpa. Beberapa lagi terus menerus tenggelam disana dan menyesal atas apa yang terjadi, lalu sebagian lagi memilih menghadapinya dengan senyuman.

Anda? Terserah mau pilih yang mana. Your life, your rules.

Di suatu petang, aku dipertemukan dengan seseorang yang datang dari masa lalu. Otakku ingin berlari menjauh dari dirinya, namun kakiku melangkah mendekati dirinya, membalas senyumnya dan well, kami bercerita panjang lebar tentang mimpi masing-masing dan beberapa perihal lainnya. Entahlah mungkin terlalu lama bersama diwaktu lampau, membuat kami bercerita tanpa hambatan, mengalir begitu saja.

Menit-menit pertama ketika aku bercerita dengannya terlintas pikiran, “Oh God, if you give us second chance, I’ll take it!”. Pada ujung cerita kami, aku tahu dia bukan lagi seseorang  yang kuinginkan untuk pulang menujunya. Bahwa aku dan dia, tidak lagi aku inginkan untuk menjadi kita, bahkan ketika dia berujar, “kalau jodoh kita pasti bersama lagi!”. Aku cuma terkekeh.

Kadang kita harus bertemu dengan seseorang dari masa lalu bukan untuk membawa dia ke masa depan bersama dengan kita, tetapi untuk meyakinkan hati bahwa kita sudah tak lagi ingin menghadirkan ia di masa depan kita.

Dan hal yang paling menyentil adalah ketika aku melihat langit sore yang kemerahan. Ada seseorang yang padanya aku ingin selalu pulang, selalu kembali.  Bercerita banyak hal, membangun mimpi, menikmati keusilan yang kadang melebihi batas kegilaan, ya ya ya, walaupun jeda kini memisahkan kami begitu jauh.

Dear you, Sunset!  I’m home soon

Sarinah, 15 July – 12.00

20 thoughts on “Mesin Waktu

  1. kalau emang mesin waktu itu ada, seandainya, andaikata.. aaaah.. aku aja sendiri bingung mau ngapain.. antara mau menggunakan atau gak nya.. haha

  2. Paling-paling kalau dikasih kesempatan, mayoritas pengen ketemu mantan.
    Kalau saya ga. Saya ingin pulang dan lebih banyak menghabiskan waktu dengan orang tua. Terutama (alm) ayah. hiks,

  3. Ibukah yang mbak masya sebut sebagai a place that I call home? yang karena dia ada di setiap senja.😉

    Time machine? mauuuu…. bisa gak ya klo balik ke jaman SMA? hiks…

  4. kalau mesin waktu ada, dunia bingung, bagaimana menyenangkan semua permintaan perbaikan masa lalu, kamu tahu masya kalau dunia bingung… apa yang akan terjadi…… dia pengin tidur saja😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s