Bintang Pagi

Hari ini tak ada pesta meriah atau kesibukan berarti. Rumah ini terasa lenggang dan sepi. Langit diluar seharian ini begitu mendung.  Kurasakan aroma pedih menggantung disana. Akh, alam seperti berkonspirasi mengejek perasaanku. Kulirik kue tart berbentuk kotak lengkap dengan dekorasi tokoh kartun favoritmu, Naruto, diatas meja. Mereka masih utuh tak tersentuh. Aku bahkan tak berniat memotongnya sedikit, padahal perutku telah berontak minta diisi.

Aku menyesap perlahan kopi hitamku, lalu menyandungkan lagu selamat ulang tahun lirih. Dia masih terasa begitu nyata untukku, bahkan setelah hampir genap satu tahun tak bisa kurengkuh erat tubuh munggilnya. Masih teringat jelas lekung sabit dipipinya saat tersenyum, bau tubuhnhya kala berbalur minyak telon, lalu senyum yang malu-malu karena salah satu gigi depannya tanggal. Dia seolah masa ada disini, menatapku dengan mata bulat besar sempurna itu. Kadang dalam tidurku, aku masih mendengarnya membisikan “I Love You Mami”. Itu selalu membuatku terbangun dan menangis, karena harus menghadapi kenyataan bahwa dia memang sudah tak ada lagi. Aku rindu, rindu sedalam-dalamnya pada bintang kecilku, pada semangatku.

“Klik”.

Terdengar suara yang menandakan pintu dibuka. Lelaki itu muncul dari balik pintu, menjinjing tas kerjanya. Ia menangkap tatapanku, menyungingkan sebuah senyum singkat lalu berjalan menuju tangga dan hilang. Aku tak ingat lagi kapan terakhir kali kami berdua, aku dan suamiku, Samuel, berbicara. Aku tak ingat lagi sejak hari itu.

***

“Ini semua bukan salahmu sayang, jangan terus-terusan menyalahkan dirimu.!”

“Seharusnya aku sudah menebus obatnya, seharusnya aku belajar menyetir agar dia lebih cepat sampai dirumah sakit, seharusnya,,,” Kalimatku terhenti seketika. Samuel mendekapku tanpa aba-aba terlebih dahulu. Aku meronta minta dilepaskan. Namun ia semakin memperat pelukannya. Sangat erat.

“Kau tidak melihat tatapan kesakitannya, kau tidak melihat! Bintang kecilku hilang. A-aku ibunya” Ujarku diiringi isak yang semakin keras.

“Dan aku ayahnya. Tenanglah sayang, semua akan baik-baik saja.”

Aku menatap nanar mata suamiku.

“Apa lelaki ini tidak mengerti perasaan seorang wanita yang tak bisa berbuat apa-apa saat darah dagingnya dijemput maut?”

Kualihkan pandanganku menatap gundukan tanah yang masih basah. Disitu terdapat papan bertuliskan nama anak semata wayangku. Samuel masih memelukku, mencoba menenangkanku dengan ocehan panjang lebarnya. Perlahan tiba-tiba suasanya menjadi gelap dan ketika tersadar aku sedang terbaring di kamarku. Kata suamiku aku pingsan.

***

“I love you mami.”

“I love you too Bintang.”

“Papa juga sayang sama mami, sayang banget.”

“Mami juga sayang sama papi.”

“Tapi mengapa tak pernah lagi bicara?”

“…”

“Tuhan sayang sama Bintang mi, makanya Bintang diajak ke surga. Sakit banget loh kalau abis kemo mi. Gak enak rasanya. Itu bukan salah mami kok!”

“…”

“Bintang pergi dulu ya, mi. Salam sama papi.”

“Bintang jangan pergi nak, Bintang!!!!”

“Ika, Ika, bangun sayang, bangun” Aku membuka mata perlahan, kudapati Samuel sedang mengguncang-guncang tubuhku. Dia sontak berhenti kala menyadari aku telah bangun dari mimpiku.

“Maaf.” Ujarnya pendek lalu mulai mengambil jarak kesisi tempat tidur yang lain.

“Maafkan aku Sam,”

“Untuk?”

“Untuk kita, untuk Bintang, untuk semuanya. Bintang tadi mengunjungiku dalam mimpi. Dia titip salam untukmu.”

Samuel tersenyum hingga matanya meyipit, mirip sekali dengan Bintang.

“Tidak ada yang perlu dimaafkan Ika, tidak ada. Berhentilah menyalahkan dirimu sendiri. Bintang pergi bukan karena kesalahanmu, bukan juga karena kegagalanmu menjadi seorang ibu. Kamu telah menjadi seorang ibu yang luar biasa selama Bintang hidup. Dengan sabar telah kau sembunyikan air mata meski rasa sakitnya melebihi kemoterapi yang ia jalani. Aku tahu kamu mencintai Bintang, aku pun begitu. Tapi Tuhan lebih mengasihi dia sayang. Hidup harus terus berjalan dan kita akan baik-baik saja.”

Aku merengkuh Samuel dalam pelukanku, hangat luar biasa menjalar di sekujur tubuhku. Sudah lama kami tak saling menyentuh bahkan saling berbicara. Air mata mulai menghujani pipiku.

“Terimakasih sayang, karena tak pernah beranjak pergi dari sisiku.”

Aku mendekap suamiku lebih erat. Langit subuh diluar tampak sangat cerah. Ada satu bintang yang bersinar terang disudut langit. Aku tersenyum menatapnya.

Mami sudah mengampuni diri mami Bintang. Pergilah” Pekikku lantang dalam hati.

#14daysofinspiration – tema 7 : Memaafkan

21 thoughts on “Bintang Pagi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s