Suatu Ketika di Animatopia

image

Pandangan matanya menusukku. Pak Burhan menyelidik. Tidak boleh ada yang membawa makhluk asing ke Animatopia, sementara tadi malam ada makhluk yang mengerang karena terluka di lembah dekat pondok tempat keluargaku, keluarga rusa bersemayam. “Rosie, kamu tahu kan makhluk itu manusia? Makhluk yang sangat senang merusak. Kenapa kau bawa dia ke pondokmu?”

Aku terdiam, meski ada ketakutan di dalam hati, aku tetap merasa apa yang kulakukan bukanlah hal yang salah. Siapa yang tega mengabaikan pekik pilu yang memecah  itu? Lagi pula seluruh keluargaku tidak ada yang keberatan. Ibu malah membantuku membersihkan luka dikepalanya.

“Rosie, aku sedang bertanya kepadamu! Kau tidak bisu bukan?”

“Nggg,, begini pak Burhan. Manusia itu dalam keadaan terluka parah dan aku rasa dia bahkan tidak punya tenaga untuk merusak apapun di Animatopia ini.”

“Hahaha. Rosie, Rosie, Rosie,” Pak Burhan berjalan menggoyang-goyangkan ekornya sambil mengelilingiku.

“Kamu masih terlalu muda untuk memahami apa yang telah terjadi selama ini. Manusia itu mahkluk yang licik. Kita lengah sedikit saja maka habislah!”

Aku melempar pandang gelisah. Ibu menatapku cemas di ujung kanan para penduduk Animatopia yang sedang berembuk untuk memutuskan nasib manusia yang kutolong. Pak Burhan selaku tetua merasa bahwa tidaklah aman jika ada manusia yang mengetahui negeri kami.

“Izinkanlah ia tinggal, setidaknya hingga luka-luka di tubuhnya mengering. Bayangkanlah Pak, jika Bu Cici Kelinci atau Kak Hari Harimau yang terluka, apakah Pak Burhan tega membiarkannya?”

“Kamu tidak bisa menyamakan cerita seperti itu Rosie! Manusia itu harus dibunuh! Sebab jika tidak, ia akan memberitahu kawanannya dan Animatopia akan musnah tak bersisa!” Pak Bibu Badak berteriak.

Aku semakin meringsek di tempatku diinterogasi. Dalam hati aku berjanji, akan menyelamatkan makhluk apa pun yang butuh pertolongan. Meski nyawa taruhannya. Diskusi semakin lama menjadi semakin riuh. Mereka sibuk mendiskusikan bagaimana caranya untuk menghabisi nyawa manusia yang kubawa ke pondok semalam. Kulirik ibu, mengirimkan sinyal kecil. Ia kemudian menganguk, tanda setuju.

Pelan-pelan aku melangkah menjauhi kerumunan. Aku pastikan tak ada seorangpun yang menyadari selain ibu. Setelah berada diposisi yang tepat, aku melesat secepat kilat berlari menuju rumah.

***

Pekarangan pondokku tampak lengang. Adik-adikku : Bonie, Runie dan Kely sedang bermain dengan riangnya.  Belum ada tanda-tanda kedatangan orang-orang yang tadi sedang berdiskusi ke sini.

“Bonie, Runie, Kely! Cepat masuk. Tolong bantu kakak mengurus tamu kita di dalam.”

Mereka mengangguk lalu berjalan mengekoriku. Disudut ruangan, tamu kami, tuan manusia itu sedang terkulai lemas diatas tumpukan jerami. Aku menggosok punggung tangannya dengan moncongku, berusaha membuatnya sadar. Ia menggeliat lalu mengerjapkan matanya berkali-kali.

“Maaf tuan manusia, aku membangunkanmu.”

“Leo, panggil saja aku Leo.  Terimakasih ya telah menolongku. Siapa nama kalian?”

“Aku Rossie. Ini ketika adikku, Bonie, Runie dan Kely. Tuan Leo, sebenarnya Anda harus segera pergi dari sini secepatnya!”

“Penduduk Animatopia akan segera datang dan membunuhmu. Mereka khawatir Tuan Leo akan membocorkan posisi negeri kami kepada manusia lain dan menghancurkan negeri kami. Kecurigaan yang terlalu berlebihan bukan?” Leo mengangguk lemah, sambil mencoba bangkit, ia berkata, “Tak semua manusia bernafsu menghancurkan keseimbangan alam. Setidaknya aku bukanlah bagian dari mereka yang dipercaya jahat oleh penduduk Animatopia.”

“Iya Tuan, aku percaya. Tidak ada waktu lagi, kita harus segera pergi.” Sayup-sayup terdengar derap langkah milik banyak makhluk. Kurasa penduduk Animatopia akan segera tiba. Bonie, Runie, Kelly Dan aku mengiringi Tuan Leo melarikan diri ke bagian hutan Raindrops. Kami terus berlari hingga terengah dan kehabisan nafas. Sial, derap kaki itu terus mengikuti. Kami sudah tidak kuat lagi. Akhirnya Bonie menuntun kami untuk berlindung di bawah pohon mahoni yang ditutupi perdu berwarna ungu.

Kami berlima merapatkan badan, saling merangkul dengan gugup. Ada kecemasan luar biasa, lalu menahan napas berharap agar tak tercium oleh paman Bomer, sang anjing kepala  keamanan. Mata-mata gerombolan hewan dari animatopia terlihat begitu liar dari balik sini. Kurasa mereka akan segera mencabik tanpa ampun Tuan Leo dan juga kami berempat jika menemukan kami.

“Kemana mereka? Dasar anak kurang ajar! Ayo cari terus. Kita harus temukan mereka secepatnya.” Suara pak Burhan lantang menggema.

“Aku rasa mereka belum jauh dari sini.” Ujar paman Bomer sambil terus mengendus-ngendus.

“Kita bagi kelompok saja Burhan. Jika terus begini kita mungkin akan menemukan mereka tahun depan.” Kata pak Bibu

“Oke!” Serempak mereka mengiyakan kemudian sibuk dalam pembagian kelompok. Aku dan ketiga adikku berkonspirasi demi melindungi makhluk tidak berdosa yang masih belum pulih dari luka itu. Tuan Leo menggigil ketakutan dalam naungan perdu dan barikade rusa yang juga gemetar ketakutan.

“Ada yang bergerak di rumpun ungu itu! Periksa!” Teriak pak Bibu. Percuma saja kami mencoba bersembunyi, getaran ketakutan kami telah tercium oleh mereka. “Tangkap manusia itu!” Pak Bibu semakin lantang bernafsu memburu. Paman Bomer dan Pak Burhan menyeretnya ke tengah-tengah massa.

“Pak Burhan!” Terdengar suara gemetar yang mencicit dari deretan belakang, rupanya Bibi Cici Kelinci.

“Benar apa yang dikatakan Rosie. Bagaimana jika yang terluka itu aku? Atau Bu Hunny istrimu? atau Retha anakmu? Kalau mereka terdampar di negeri manusia dan tidak ada yang berbelas kasihan atau mengasihi mereka, apa Anda tidak sedih?”

“Benar kata Bibi Cici Kelinci. Aku membayangkan bahwa yang terluka itu aku atau Ibuku, bagaimana mungkin aku tega membunuh makhluk yang terluka. Apakah hati kalian bisa menerima?” Tambah Kiki si Angsa.

“Cobalah rasakan jika kita berada di posisi manusia ini.” Runie menimpali, “Omong-omong ia punya nama, Tuan Leo.” sahutnya lagi. “Jangan dibutakan oleh perbedaan. Jangan hanya karena Tuan Leo berbeda dari kita, kita bisa berlaku semena-mena.”

“Bagaimana kalau Pak Burhan dan Paman Bomer sendiri yang berada di posisi Tuan Leo? Masihkah akan sebernafsu ini membungkam suara hati kalian?”

Pak Bibu bersimpuh, Paman Bomer terisak. Mereka rubuh ke tanah, menangis. Hati mereka memahami apa yang dikatakan Bu Cici Kelinci, Runie, Rosie, dan Kiki, mereka telah dibutakan oleh kebencian yang tidak beralasan.

“Maafkan kami Tuan Leo, Anda berhak sembuh dan hidup.” Paman Bomer, Pak Bibu, dan semua penduduk Animatopia mengangguk. Bangga pada Rosie dan keluarganya, yang dengan gagah berani menunjukkan sikap kasih terhadap semua makhluk tanpa membeda-bedakan.

Kolaborasi dengan Nurhadianty Rahayu

10 thoughts on “Suatu Ketika di Animatopia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s