Kita dan Semangkuk Kolak Pisang

Ingatkah kamu pada janji kelingking yang pertama kali kita buat?
Saat itu mentari mulai turun ke peraduannya diiringi gema merdu adzan,
Masih malu-malu kita berdua duduk bersisian menatap semangkuk kolak pisang
Kau mulai bertutur tentang perjalanan bintang yang menguras tenaga dan aku bercerita tentang bianglala  yang kehilangan warna

Gelap mulai merajai langit bersanding mesra dengan purnama
Lalu nafasku mulai berantakan rimanya saat kelingkingmu tertambat dikelingku
Kau bilang kau dan aku harus menjelma menjadi kita
Mengekalkan rasa pada waktu
Menyimpan rindu yang tak pernah padam dalam raga
Menorehkan  mimpi bersama hingga keriput wajah cemas tak bisa memudarkan kagum diantara kita

Ini purnama kedua belas setelah kita merapal janji
Kunikmati sendunya tanpa menatap mata bulat teduhmu
Hanya ada semangkuk kolak pisang lengkap dengan kenangan yang membanjiri hati
Pulanglah,
Pulanglah lelakiku karena letup-letup rindu enggan padam
Sebelum jemari kita saling mengunci kembali

Puisi untuk @ridoarbain dalam #DuetPuisi – Tema : Kolak

30 thoughts on “Kita dan Semangkuk Kolak Pisang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s