Prompt #21 : Kirana

Bajuku kini basah penuh air mata. Kirana baru saja terisak didalam pelukanku. Kini ia telah tenang, duduk tepat dihadapanku. Mata hitamnya masih tetap teduh meski kini tampak memerah.  Saat dia menangis, aku bahkan tidak ingin menyuruhnya diam, karena hanya dengan cara seperti itulah aku bisa begitu dekat dengannya.

“Ia menyakitiku Don, dia pergi dengan perempuan itu!”

“Sudah, sebaiknya kamu tinggalkan saja lelaki seperti dia.”

“Aku sudah minta putus, tetapi dia malah memukuliku. Sakit.”

“Dimana? Dimana dia menyakitimu?”

Kirana terdiam. Air mata kembali menghujani wajahnya. Kulihat tangannya yang mulai menari menyentuh kancing kemejanya. Kulitnya pualam bersih mulai tersingkap. Gundukan didadanya terlihat sempurna. Mataku tak mampu berpindah dari sana, hingga suaranya memecah konsentrasiku.

“Ini, ini dan ini” Jemarinya secara lincah menunjukkan kepulan lebam yang bersarang pada kulit bersihnya.

“Biarkan aku menjadi pelindungmu Kirana!” kudengar suaraku berujar.

Ia tersenyum menatapku. Jari-jari mungilnya mulai memainkan anak rambutku.

“Kau sungguh ingin jadi pelindungku Don?”

Aku mengangguk mantap. Seketika diraihnya aku kedalam pelukannya, memberikan sesuatu yang semua lelaki sebut surga dunia. Akh Kirana, pacarmu begitu bodoh menyia-nyiakan bidadari sesempurna dirimu.

***

Tanganku kini berlumuran darah. Hari ini aku resmi menjadi seorang pembunuh. Kulihat pacar Kirana terkulai lemah bersimbah darah di lantai. Luapan emosiku tak terbendung lagi hari ini. Siapa lelaki yang tahan melihat perempuan yang begitu dicintainya tersakiti terus? Kirana menangis tersedu di sudut ruangan. Perlahan aku menghampiri dan menyeka air matanya.

“Tenang sayang. Kini tak akan ada yang menyakitimu. Tak akan ada lagi. Aku bersumpah!”

***

“Siapa lelaki itu sayang? Dia juga yang mengantarmu kemarin pulang bukan?”

“Iya. Dia Alex sayang, anak baru di kantor. Biasalah anak baru jadi perdaya gunakan dulu.” Kirana tertawa renyah lalu mulai membuka setelan kerjanya.

“Lenganmu kok biru, kenapa?”

“Ngg, aku terpeleset tadi pagi di kamar mandi. Kau masih tidur jadi tak tahu. Tapi jangan khawatir Don, sebentar lagi pasti akan membaik”

Kirana tersenyum, lalu duduk di atas pangkuanku.

***

Aku melihat diriku bersimbah cairan merah. Lelaki dihadapanku masih memegang pisau dan menatapku dengan tatapan mengerikan. Dia begitu mirip dengan Alex, supir baru dari kantor Kirana.

“Mati kau lelaki sialan. Cukup sudah kau menyakiti Kirana. Sudah selingkuh, main pukul pula” Ujarnya sambil menghadiakan tedangan keras di perutku. Aku hanya bisa meringis pelan, tak mampu lagi mengeluarkan kalimat pembelaan. Dalam kelemahanku aku berusaha mencerna apa yang lelaki itu katakan. Aku selingkuh? Sejak kapan aku pernah menemui wanita lain untuk urusan begituan? Berpikir untuk melakukan perbuatan keji itupun tak pernah terlintas dalam pikiranku. Lalu main pukul? Mana pernah. Memarahi Kirana pun aku tak berani. Aku terlalu mencintai perempuan itu.

Kulihat mereka berdua berpelukan begitu erat. Sayup

“Tenanglah semua ini sudah berakhir. Lelaki itu memang tak pantas menjadi pacarmu. Aku berjanji akan selalu menjagamu Kirana.”

Sayup-sayup kudengar lelaki itu berujar. Denyut napasku mulai memelan. Tiba-tiba aku teringat Faisal, pacar terdahulu Kirana, yang kubunuh dengan penuh gairah. Tatapan matanya menjelang kematian seperti menyiratkan pesan, ya pesan yang baru bisa kusadari maknanya hari ini. Kutangkap tatapan Kirana yang kini sedang menelajangiku dengan penuh kemenangan. Sial! Dasar wanita iblis. Sebentar lagi aku akan berjumpa dengan Faisal.

500 Kata

18 thoughts on “Prompt #21 : Kirana

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s