Hujan dan Raut Wajahmu

Ibuku bilang, aku harus meninggalkanmu karena kau tak punya kelopak lebar dengan bola mata bulat kelerang. Matamu yang mungil ditambah kulitmu yang putih bersih, tidak termasuk dalam daftar calon menantu idealnya. Padahal aku telah menjatuhkan hati pada raut wajahmu. Matamu yang menyipit sempurna kala tertawa telah menjadi obat penawar kesedihan yang mujarab bagiku. Lalu mengapa aku harus membuang obat penawarku?

Ayahku bilang kamu dan semua orang yang memiliki perawakan mirip denganmu memiliki sifat pelit yang sudah mendarah daging, jadi aku harus meninggalkanmu. Padahal ia tidak pernah sekalipun menghabiskan satu jam bersama dirimu atau keluargamu. Aku ingin bercerita padanya tentang bagaimana awalnya kita berjumpa. Waktu itu matahari Agustus begitu menyengat. Aku melihatmu sedang berbicara seorang bocah kecil yang biasa kulihat menadahkan tangan di lampu merah depan kampus. Aku tak bisa berhenti melepaskan tatapan keheranan pada kalian. Pasalnya penampilanmu sungguh berbanding kontras dengan bocah itu. Kemudian hari baru aku tahu, kau dan orang tuamu bersepakat untuk membiayai pendidikan sang bocah. Tapi ayah selalu beranjak pergi jika aku membuka bincang tentangmu.

Aku telah mencoba menjelaskan dengan bahasa yang begitu jelas kepada ibu dan ayah. Bahwa aku tidak pernah rela meruntuhkan bangunan komitmen yang telah kita rangkai bersama selama lima tahun. Bahwa aku ingin membawa kita ke tahap selanjutnya. Bahwa aku dan kamu mau saling menerima apa adanya. Tapi mereka tetap kokoh pada alur pikir mereka. Katanya kita bagai bumi dan langit, aku pribumi dan engkau Cina, mustahil bisa disatukan.

Juli yang basah. Lantai tanah mulai letih diketuk-ketuk hujan. Aku, kamu serta keluarga besarmu masih belum bisa meluluhkan pandangan kedua orangtuaku. Aku akhirnya melakukan tindakan gila dihadapanmu dan hujan. Ku keluarkan kotak persegi berisi cincin yang pernah kau berikan dua tahun lalu mengemasnya dalam genggamanmu.

“Maaf aku tak bisa lagi memperjuangkanmu. Aku tak bisa menikahi seorang wanita tanpa restu dari kedua orang tuanya.”

Aku hanya terisak lirih beradu dengan bisingnya hujan.

“Mungkin benar aku bumi dan engkau langit. Begitu jauh tak bisa saling menyatu. Tapi untuk itulah Tuhan menciptakan hujan, untuk menghubungkan bumi dan langit. Cinta itu mirip hujan bukan? Menyatukan berbagai pasang yang begitu berbeda. Tapi aku mengerti, tidak semua orang suka hujan yang begitu tulusnya menyatukan langit dan bumi.”

Engkau mengakhiri kalimatmu dengan tersenyum. Matamu masih menyipit sempurna tak berubah. Tenggorokanku tercekat tak mampu mengembalikan jawaban pertanyaanmu. Ini pertemuan terakhir kita. Raut wajahmu yang begitu kugemari tak lagi bisa terlihat. Punggungmu juga semakin berangsur hilang, dilahap hujan.

#14daysofinspiration – Theme: Tolerance

7 thoughts on “Hujan dan Raut Wajahmu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s