Sepasang Sepatu Tua

Entah sudah berapa senja yang telah kulewati dengan berteman kesepian.  Aku masih mendapati diriku duduk memandang sepatu boot cokelat yang tergeletak di depan pintu kamar. Sepatu itu sudah terlihat usang, banyak debu dan kelelahan yang melekat disana. Kepulan asap dari secangkir kopi yang baru saja kubuat sepertinya tak mampu membuatku menyudahi ritual yang semua orang sebut konyol ini. Pulang kerja, minum kopi dan menatap pasangan sepatu itu berjam-jam lamanya hingga ngantuk datang menyapa. Aku bahkan pernah sampai tertidur sampai pagi di atas meja makan. Teman-teman yang satu kontrakan denganku sampai sudah bosan memarahiku melihatku bertingkah seperti ini. Akh sial, seandainya membunuh perasaan semudah mematikan komputer kerjaku, mungkin aku tak perlu begini. Tapi sungguh ini hanyalah satu-satunya cara untuk sedikit meredakan perasaan rindu yang semakin liar beranak pinak.

***

Aku mengenalnya 13 tahun lalu saat dalam usia yang masih cukup belia. Namanya Alex. Dia menjadi salah satu mentor bagiku dan sekelompok mahasiswa baru lainnya. Tubuhnya tinggi kurus dibalut kulit putih bersih. Wajah tirusnya dihiasi lekung sabit dipipinya. Manis sekali kala tersenyum. Setahun setelah berkenalan kami memutuskan untuk menjalin kasih. Tepat memasuki tahun ketiga hubungan kami, aku menghadiahi Alex sepasang sepatu boot kulit, berwarna cokelat dengan ukuran 41. Sepatu itu sebenarnya sudah ingin dibeli olehnya sejak pertama kali hadir di toko langganan kami. Namun karena ada kebutuhan lain yang mendesak dia terpaksa mengurungkan niatnya.

“Ini sangat berarti buatku La. Thanks.”

“You deserve it Lex.”

“Aku akan selalu pakai sepatu ini kemanapun aku pergi, kecuali ke kamar mandi atau ke alam mimpi.”

“Ih, kalau yang itu aku juga tahu!” Ujarku sambil mencubit lengannya.

Ia tertawa hebat lalu segera menarik diriku kedalam pelukannya.

***

“Apa lagi yang harus kita lakukan Stella untuk meyakinkan ibumu? Apakah sembilan tahun yang kita bawa itu belum cukup?”

“Bersabarlah sebentar lagi sayang. Kumohon! Aku rasa ibu hanya perlu melihat sedikit lagi kegigihanmu?”

“Gigih? Kau bilang aku kurang gigih? Coba katakan apa aku harus mengoperasi kelopak mataku? Atau harus mandi matahari setiap hari agar kulitku kecoklatan? Apa harus begitu? Iya?”

Kupandangi bibirmu bergetar hebat dan wajawahmu mulai merah padam.  Bibirku membeku seketika tak mampu menuang lagi kata-kata untuk menjawabmu.

“Sudahlah, kita sudahi saja. Seribu tahun lagi kita bersama tidak akan mengubah garis keturunanku. Ibumu tidak merestui kita karena aku Cina kan? Carilah seorang pria baik-baik dan pastikan dia pribumi.”

Kau tersenyum sekilas menatapku lalu berlalu. Aku hanya bisa membiarkan air mata memburamkan mataku menatap punggungmu yang perlahan sirna dilahap malam.

***

 Aku memandang sepatu tua pemberianku beberapa tahun lalu untuk mengenangmu. Oh, mungkin sudah dua tahun senja ini kunikmati sendiri. Kopi kesukaanmu masih saja kuseduh namun aku tak pernah meminumnya. Aku takut kau akan kembali sewaktu-waktu dan marah jika aku minum dicangkir favoritmu. Akh sebenarnya tidak sendiri. Sepatumu yang merekam sebagian jejak kenangan kita kan masih ada untuk menemaniku. Sepatu itu ibumu berikan lagi kepadaku tepat seminggu sesudah kau dikremasi.

8 thoughts on “Sepasang Sepatu Tua

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s