Tombol Pengingat

Ada sosok yang akhir-akhir ini begitu menarik perhatianku. Namanya Scorpion. Dia salah satu panglima perang yang cukup terkenal di kota kami, Efthemia. Tubuhnya tinggi besar dihiasi otot megah ditangan dan kakinya. Rahangnya tegas berpadu indah dengan kulitnya  kecoklatan. Persis ditulang belakangnya terdapat sebuah tato kalajengking yang memenuhi seluruh bidang disana.

Dia bukan penduduk asli kota kami. Dia pendatang yang dijumpai hampir mati terkulai di tepi pintu gerbang utama enam bulan lalu. Tubuhnya dipenuhi luka parah. Dewan kota akhirnya bersepakat untuk menyelamatkannya. Padahal saat itu situasi sedang genting. Terjadi pertempuran sengit antar kota melawaan penguasa barat,Aeson, yang berusaha mengintervensi kota-kota diwilayah timur dan masuknya orang asing justru hal yang harus dihindari. Namun desas desus yang beredar dia diterima karena sang peramal utama melihat adanya cahaya kemakmuran dimasa depan kota kami jika lelaki itu ada dikota ini.

Saat itu, ketika ditanya asal usulnya, dia sama sekali tidak ingat secuilpun. Karena tato kelejenking yang dimiliki, maka mereka member nama panggilannya Scorpion. Dikota kami semua warga dewasa harus bekerja sesuai dengan potensi yang dimiliki. Setelah melalui serangkaian proses pengujian, sang pendatang baru ini ternyata lebih unggul dalam bidang bela diri. Ia mahir sekali memainkan pedang. Untuk itu dia dimasukkan dalam jajaran prajurit perang kota. Karena penguasan seni perangnya yang fantastis, Scorpion dengan cepat menempati posisi sebagai salah satu panglima pasukan.

Aku memang tahu banyak tentang lelaki ini. Ayahku lah sumber informasinyanya. Sebagai salah satu anggota dewan kehormatan kota, ayah memenuhi egonya dengan menjodohkanku.  Ya, tebakan kalian tepat, ayah menjodohkanku dengan Scorpion, salah seorang pria terkenal dikota ini. Kata ayah dia adalah lelaki yang hebat, kaya dan aku tak akan sengasara jika sudah menjadi istrinya. Aku mengiyakan saja pinta ayahku sebab membangkang perintah ayah sama artinya dengan meminta ajal datang satu juta tahun lebih cepat.  Setelah menghadiri beberapa pertemuan yang diatur, aku rasa dia adalah sosok yang tepat menjadi suamiku.

***

Hanya dalam jangka waktu satu bulan saja, persiapan pesta pernikahanku dengan Scorpion hampir selesai. Kami akan menikah seminggu lagi. Aku bahagia, sungguh. Sikap lelaki itu, maksudku calon suamiku tidak lagi sedingin dahulu. Ia sering membawakanku anggrek putih, bunga kesukaanku setiap paginya. Kadang kami menghabiskan waktu berdua jika dia sedang berlibur. Aku sepertinya sedang jatuh cinta padanya. Dan kurasa Scorpion juga sedang tenggelam dalam hal yang sama.

***

Sebagai perayaan akan status bujangku yang tinggal dua hari lagi, malam ini Scorpion mengajakku makan malam dirumahnya. Aku cukup puas dengan dandananku malam ini danSetibaku dirumahnya, Scorpion telah  sekarang sedang dalam perjalanan menaiki keretanya menuju rumahnya. Setibaku dirumahnya, Scorpion telah menyambutku dengan senyum lebarnya.

“Hallo Minerva. Ayo, makan malam sudah menanti.” Ujarnya sambil membungkuk mempersilahkan aku masuk.

Sepanjang makan kami banyak berbicara tentang beberapa persiapan yang akan selesai besok, lalu tentang mimpi-mimpi kami kedepan. Ketika aku hendak pulang, dia menarikku kedalam dadanya lalu mendekapku begitu erat. Napasku turun naik begitu cepat. Kami berdua belum pernah sedekat ini sebelumnya. Mataku yang terpaku didadanya kemudian menjelajah cepat. Terlihat olehku dalam bajunya ada sesuatu. Kuangkat dan ternyata sebuah kalung dengan bandul segi empat dengan permata hijau ditengahnya. Sepertinya baru malam ini aku melihatnya.

“Apakah ini kalung barumu Scorpion?”

“Bukan, itu sudah ada semenjak aku datang kesini.”

“Batu permatanya bagus sekali!” Ujarku sambil menekan bagian tengah bandul kalung tersebut.

Seketika itu juga kalung itu seakan menempel didadanya begitu lekat lalu ia melihatku dengan tatapan mengerikan seakan aku adalah orang asing.

“Kamu siapa berani-beraninya memelukku?”

Aku seperti tersambar petir hebat yang mengatupkan kedua sudut bibirku.

“Jawab! Siapa Kamu? Aku dimana sekarang?”

“Ka-kamu kenapa Scorpion? Aku Minerva, calon istrimu, dua hari lagi kita akan menikah. Kita sekarang ada dikota kita, Efthemia. Apakah kamu tidak ingat?”

“Efthemia masih belum dihancurkan? Masih ada? Sial aku rupanya belum menyelesaikan misi raja Aeson untuk memusnakan kota ini?”

“Ma-maksudmu? Kamu itu panglima perang kota ini Scorpion. Kamu harus melindungi kota ini. Aeson adalah musuh kita.” Ujarku hampir menangis.

“Sebaiknya kamu segera pergi dari sini. Aku akan segera memusnahkan kota ini. Oh iya, satu lagi namaku Ares, bukan Scorpion.”

Secepat kilat ia mengambil pedangnya dan melesat cepat, meninggalkan aku sendirian dirumahnya. Oh Apollo, aku punya firasat buruk tentang kota ini.

3 thoughts on “Tombol Pengingat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s