Lima Menit Kemudian

“Aku akan kembali, percayalah. Dua tahun tidak akan lama sayang. Ingat kamu jangan nakal! Matamu tercipta hanya untuk melihat aku dan hatimu itu telah jadi milikku. Ingat! Kesepakatan kita  untuk tak saling menghubungi tidak boleh dilanggar. Aku tahu kita berdua bisa melewatinya kok! ”

Lelaki itu berujar mantap sambil mengacak-acak rambut yang sedari pagi aku tata hanya untuk terlihat cantik dihadapannya. Sial, sama sekali tidak peka. Lebih sial lagi aku sungguh sedih hingga tak bisa menepis tanggannya.  Aku kemudian mengangguk pelan lalu mencoba melipat air mataku kembali agar tak terburai. Aku tidak berani melihat penampakan wajahku dihujani mascara yang luntur berpadu dengan rambut berantakan. Terdengar sangat mengerikan. Apalagi jika menanggis dihadapan dia, jangan sampai.

“Cepat kembali. Aku selalu menantimu!”

Ia tersenyum lalu segera berlalu kedalam mobil yang membawanya pergi dari kota kami, pergi dari sisiku. Akh hanya dua tahun tanpa saling berkomunikasi. Hanya dua tahun menenun percaya dalam sepi.

***

Akulah kota
Yang selalu menantimu pulang
Seperti malam setia menanti senja rebah dalam pelukan

Dua tahun memang bukan waktu yang lama. Kesibukan dengan pekerjaan baru di galeri lukisan sepertinya  menyita sebagian besar perhatianku. Aku sering sekali dilanda kerinduan yang begitu hebat terhadap kamu, lelaki semata wayangku. Namun janji kita buat lebih berarti untuk ditepati dari pada setiap pembangkangan beratas namakan rindu dan khawatir. Aku sangat yakin kamu akan baik-baik saja disana. Setiap pagi, petang, malam, terselip namamu dalam setiap doa yang kurapalkan.

Hari ini tepat dua tahun kita saling berpisah. Dengan penuh keyakinan, aku menanti didepan beranda  rumahku berharap sebentar lagi kau akan datang menuntaskan segenap kerinduanku. Senja mulai hilang perlahan digantikan gelap malam, namun kau belum kunjung datang.

Satu jam, dua jam, hingga akhirnya empat jam berlalu, sosokmu belum lagi menampakan diri. Udara dingin yang kian menusuk  membuat mataku semakin ringan untuk menutup. Mungkin kau ketinggalan pesawat atau semacamnya disana. Akhirnya kuputuskan untuk meninggalkan beranda depan menuju peraduan untuk menyulam mimpi bertemu denganmu keesokan harinya. Hmm, semoga engkau baik-baik saja disana lelakiku.

***

Hari ini aku pulang agak malam dari galeri karena besok pagi-pagi sekali ada pameran dari salah satu pelukis ternama dinegeri ini.  Aku dan semua karyawan sudah bersiap-siap pulang hingga akhirnya Hendra, sekretaris pribadiku memberitahu ada orang yang menolak disebutkan namanya sangat ingin bertemu langsung denganku sekarang.

“Dia ada di lobby depan bu.”

Aku menyampaikan beberapa hal kepada Hendra dan kemudian berlalu menuju lobby galeri.

“Hah, siapa orang gila yang datang malam-malam begini? Tak ingin menyebut identitas lagi. Emang dia pikir dia siapa? Kalau memang ada keperluan seharusnya besok pagi saja. Awas saja kalau bukan hal penting” Gerutu batinku panjang

“Halo Astrid, apa kabarmu?” Tamu yang menanti dilobby depan galeri itu menyapaku ramah.

Sial! Napasku tercekat seketika, hampir saja pingsan disana melihat sosok yang selama ini kunantikan ada dihadapan mataku dengan senyum yang tak secuilpun berubah.

“Ka-kamu ngapain disini?”

“Jelas untuk menemuimu. Maaf aku terlambat.”

Hampir saja tawaku pecah namun coba kusampaikan dalam bentuk lain, sebuah senyum sinis.

“Well, it’s okay Bryan. Kamu cuma terlambat dua tahun setengah kok, tidak usah dipikirkan!”

Ia menatapku dengan mata bertabur penyesalan. Tak ada kata yang terucap, kami hanya saling memandang dalam kesunyian.

Lima menit kemudian, ada yang melingkarkan tangan dipinggangku.

“Sudah bisa kita pergi sekarang? Ibu menanti dalam mobil.”

Aku tersenyum meraih tangan suamiku lalu menggenggamnya erat.

“Ayo sayang. Maaf Bryan ibu mertuaku sedang menanti di mobil. Mungkin ini pembicaraan terakhir kita. Kalau ada keperluan lain silahkan hubungi saja sekretarisku.”

6 thoughts on “Lima Menit Kemudian

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s