Potret Ibunda

Aku menegak secangkir kopi tanpa gula sambil menatap was-was hujan yang masih turun dengan diluar sana. Hari ini aku sama sekali belum keluar untuk menyelesaikan kewajibanku. Sia-sia saja jika aku nekat melangkah. Bulir-bulir hujan yang pecah diluar sepertinya sebesar kepalan bayi dan diiringi angin dan dentuman petir yang menggerikan. Aku akan langsung basah sekalipun telah menggunakan payung dan mantel hujan. Kuraih buku catatan kecil berwarna merah yang duduk manis diatas meja. Buku itu biasanya kupakai sebagai media pencatat pesan-pesan yang harus kusampaikan. Ini sebagai peminimalisir kesalahan yang terjadi. Ingatanku tidak masuk dalam ketegori superior dan perlu alat bantu. Bayangkan saja, jika aku salah menyebut tempat atau nama, atau isi pesan tertukar, bisa-bisa reputasi buruk yang akhirnya kuperoleh. Buku ini semakin hari semakin tipis karena setelah selesai pesan-pesan tersampaikan, halaman tersebut akan kurobek dan buang.

Setelah kubaca, ternyata hari ini banyak pesan yang harus segera disampaikan. Hujan diluar sana belum juga berhenti berkicau. Aku mendesah panjang lalu mataku menangkap salah satu pesan dipenghujung halaman.

“Berikan mawar merah itu padaku sekarang. Darahku semakin biru dan butuh kehangatan. Peperangan semakin dekat!”

Aku memicingkan mata sejenak lalu teringat kembali pesan tentang rubah dan purnama yang membuatku terjaga beberapa hari yang lalu. Masih dari pengirim yang sama dengan tujuan yang sama pula. Semoga hujan segera reda, aku hampir mati penasaran dengan kelanjutan pesan-pesan misterius ini.

***

Matahari sudah berani lagi merajai langit siang. Hujan yang begitu deras entah bersembunyi dimana. Masih kupandangi wanita dihadapanku dengan keheranan. Sesekali dia memainkan rambut merahnya disela pintanya yang diluar kebiasaan.

“Ayolah, akan kuberikan tip tambahan padamu asal segera kau sampaikan barang ini kepada Lukas.”

“Tapi nyonya aku ini seorang pengantar pesan bukan barang!”

“Sudalah, tolong aku sekali ini saja. Aku bersumpah ini tak akan lagi terulang.”

“Ta-tapi,,”

“Ini masih kecil kah?” Ujarnya sambil mengulurkan jumlah uang yang lebih besar tiga kali lipat dari harga biasanya sebuah pesan jika disampaikan. Aku menggigit bibirku.

“Dasar uang terkutuk, mengapa baumu begitu menggoda?”

Perlahan kuraih uang dari tangannya dan buru-buru memasukkan kedalam saku kemejaku.

“Tunggu disini! Aku akan segera kembali.” Ia tersenyum penuh kemenangan lalu berlalu cepat kedalam rumahnya.

 Ia keluar sambil membawa sebuah pigura kecil berwarna hitam. Didalamnya terdapat potret diri seorang perempuan paruh baya  yang jelita.

“Oh iya, hari ini pigura ini harus segera ada ditangan Lukas. Maaf aku tak punya waktu membungkusnya. Dan katakan padanya :   Jika darah telah hangat, jangan lelah. Cawan harus segera disesap.”

***

Lelaki itu menerima pigura itu dari tanganku dengan wajah berseri. Diucapkannya terimakasih padaku lalu menyuruhku segera pergi. Belum ada pesan balasan sepertinya yang harus aku sampaikan. Sementara aku melangkah pergi dapat kudengar suaranya lirih berujar “Ibu.” Akh, entah siapa yang dia panggil begitu, karena sedari tadi hanya ada kami berdua yang bercakap dihalaman rumahnya.

Cerita sebelumnya

2 thoughts on “Potret Ibunda

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s