Tentang Seekor Belibis

Pagi ini seekor belibis sedang bercinta dengan kedukaan
Tentang rindu-rindunya yang pecah diudara tanpa tertangkap
Tentang senja yang terkalung kaku di lehernya
Tentang kekasihnya yang hilang perlahan terperangkap mesin waktu
Seperti angin yang merajam kebisuan, cinta pada akhirnya dikunci kebisuan
Purnama telah ditebus malam namun rindu enggan usai

Pagi ini belibis itu melarung hatinya ke langit
Berharap kecupnya tertambat dalam bulir hujan lalu jatuh tepat diatas pucuk kening kekasihnya
Sebab hanya hujan yang bisa memerdekakan waktu dan jarak yang kian kejam
Bahkan sebuah ego yang meradang

Bandung dini hari

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s