Tawanan Kenangan

Matahari gugur pada putaran jam yang biasa
Kubisikan namamu sebagai mantra untuk membangkitkan kenangan
Waktu seketika beku
Dan aku, untuk kesekian kalinya, mengizinkan engkau datang, supaya sempurnalah senja dan perjalanan pulang

Aku pernah berhalusinasi membunuh waktu agar tak kudapati lagi diriku
Menanti engkau datang dan menyuapiku dengan kasih
Aku ingin terbangun dan lupa pada segalanya, termasuk namaku, mungkin namamu
Supaya bangku-bangku di teras rumahku bisu untuk selama-lamanya, lalu ingatan yang melekat di sana perlahan terhapus

Tetapi apalagi yang lebih berharga dari manusia, selain kenangan?
Keinginan ini pelan-pelan surut di dasar gelas bersama kopi yang kuteguk
Aku belum menemukan jawabannya.

Pada kenyataannya, aku bahkan tak pernah ingin benar-benar melupakanmu
Ataupun melewati masa depanku tanpa memikirkanmu
Untuk itulah aku masih berlari
Mengejar masa lalu yang semakin renta dilahap waktu
Mengejar masa di mana bau tubuhmu masih liar menari ditubuhku
Dimana tatapan manjamu tanpa jeda mengakar dimataku
Seperti angin yang masih kesepian membelai ombak
Demikian pula diriku yang masih berteman puisi pada malam-malam penuh rindu

Apakah kenangan tentangmu sebenarnya adalah duka?
Ditumpuk berlapis pada hatiku yang tak berdaya
Hati yang menerima yang tak ingin diterima, memendam yang tak ingin dipendam

Dari pinggir gelas, aku sedang mendayung ke tengah, membawa bekas-bekas jemari dan bibirmu lalu menenggelamkannya agar semua mencair
Aku ingin berlayar
Berdiri di haluan, menantang angin
Biar sisa-sisa bisikmu terhempas lepas dari telingaku, lalu pelan-pelan pudar bersama jejak-jejak kapal
Sesudah itu, aku ingin pulang lagi ke kotaku sebagai seorang pelancong.
Di dermaga, mungkin akan kupilih satu dari sekian banyak jalan baru yang kan kulayari dengan merdeka.

Namun aku tak berdaya disekap tanya,
“Dengan apakah lubang di jantung ini akan kututupi, jika engkau sunguh-sunguh sirna?”
Ada pintu di hatiku yang sudah kau bawa kuncinya
Cintaku padamu keras kepala
Kian lama kian asing sendiri dengan inginku yang kadang memilih mengubur kenangan tentangmu

Puisi kolaborsi dengan Weslly Johannes

8 thoughts on “Tawanan Kenangan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s