Kunang-Kunang

fireflies

Ini mengenai jarak dan kecemasan yang sering kau gambarkan dengan tegas akhir-akhir ini. Aku tak mengerti bagaimana mereka semakin menjadi-jadi merasuki pikiranmu. Bercangkir kopi telah kuhabiskan untuk merangkai satu atau dua alinea yang tepat, yang membuatmu setidaknya berpikir sedikit dengan porsiku.

“Aku adalah kunang-kunang sayang, yang setiap malam akan mengunjungimu. Cahayaku memekik menyapu rindumu, meski dalam dadaku ada rindu yang coba kusembunyikan agar kau tak perlu terlalu khawatir, agar kau selalu kuat dan tak goyah bersamaku saat menjadi kita.”

Barangkali mata yang tak saling bertatap, jemari yang tak saling menjalin, bibir yang tak saling berpagut menjadi sebuah masalah besar bagimu. Tapi adakah arti semua itu dalam jarak nol sentimeter sekalipun jika dua hati tak pernah saling melekat, saling menyatu dan mau bertumbuh bersama? Jarak bahkan menjadi lelucon menyenangkan untuk mengakhiri semua yang dimulai dengan air mata.

“Akulah kunang-kunang sayang, yang akan meneteskan cahaya mutiara di mata hitammu. Yang akan melingkar mesra dijemarimu saat petang berangsur pergi. Yang akan memagut bibirmu dengan madu hutan hasil buruanku. Lalu apa lagi yang kau takutkan? Kesepian? Pengkhianatan? Dada dan perutku boleh kau sisipkan dikantong bajumu. Bawalah mereka kemana saja engkau melangkah.”

Aku tak punya cara untuk mengeringkan air matamu yang luruh bersama peluhmu ketika kau mulai berlari. Kau berlari dari kenyataan, meninggalkanku pada sebuah titik bernama kenangan yang tak ingin aku lepas. Doa-doa malamku menjadi begitu gugup. Aku takut permohonanku tak bisa membuatmu berhenti berlari atau sejenak diam untuk mengenang saja.

Aku adalah kunang-kunang sayang, mahkluk kecil yang bisa menyusup melalui sela-sela rusukmu, menemukan hatimu dan mengukir namaku dengan sisa cahaya abadi milikku. Tapi adalah terlalu naïf untuk mengendong kita.”

Aku terlalu lelah untuk berlari seorang diri. Tiba-tiba cahayaku redup, remang. Hujan mulai turun pelan dipelipisku. Aku sudah tak mau lagi menjadi kita. Tak ingin lagi menjadi kunang-kunang. Aku tak mau tahu lagi.

Jakarta, 7 Juli 2013

5 thoughts on “Kunang-Kunang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s