Hadiah

Clown Girl - (Sketch: Masya)
Clown Girl – (Sketch: Masya)

Tania menggosokan kedua telapak tangan sambil sesekali mendekatkan ke mulut untuk dihembusi hangat nafasnya. Jaket kulit yang menyelimuti tubuhnya memang terlalu tipis, untuk menghalau dinginnya udara malam ini. Di beberapa sudut wajahnya masih nampak sisa riasan yang luput dari sapuan cairan pembersih wajah. Jalanan kompleks sudah lenggang. Hanya nampak beberapa sepeda motor yang berlalu-lalang dengan kecepatan tinggi. Dilangkahkan kaki-kaki kurusnya dengan cepat menuju rumah mungil bercat kuning, yang sudah terlihat dari kejauhan. Lampu di ruang tamu masih menyala, terlihat ibunya sedang menekuni buku. Dengan tangan yang gemetar, dibukanya pintu depan cepat.

“Hai Bu, Lea sudah tidur?”

“Sudah dari jam delapan tadi.”

“Malam ini kau pulang larut sekali, tak seperti biasanya.”

“Pestanya dimulai terlambat Bu, malah tadi jalanan macet lagi. Hah! Aku lelah sekali.” Ujar Tania seraya merebahkan tubuhnya. Dilepasnya tas yang sedari tadi menempel di pundaknya.

“Kalau kamu capek, berhentilah jadi badut nak. Kamu kan sudah punya pekerjaan tetap.”

“Ibu tahu sendiri, L eabutuh uang untuk terapi, sekolah, semuanya. Gaji seorang admin mana cukup Bu?”

Suara Tania mulai meninggi lantas embun tumpah begitu saja dari matanya. Ibu hanya menatapnya lurus kemudian mendekati dan mendekap erat tubuhnya.

“Semuanya akan baik-baik saja sayang. Ganti bajumu dan istirahatlah. Kamu butuh itu.”

Tania membalas pelukan ibunya tak kalah erat. Memang tak ada yang lebih menenangkan dari pelukan seorang ibu.

***

“Ih kamu! Kalo dah ketemu gadget suka autis deh. Nyebelin tau sayang.”

“Ah, kamu juga gitu kan sayang. Bisa seharian penuh ketawa-ketiwi sendiri. Aku baru pegang handphone bentar aja kok ribut sih!”

Samar-samar Tania mendengar percakapan sepasang kekasih yang duduk tidak terlalu jauh darinya disebuah halte bis. Dicengkram tasnya erat lalu menarik napas dalam-dalam. Akh, andai saja mereka tahu autis bukan sebuah lelucon atau akar romantisme murahan. Lea, anak semata wayang Tania divonis menderita Autism Spectrum Disorder (ASD) sejak berumur dua tahun. Berita itu merupakan pukulan yang berat, apalagi bagi dirinya seorang ibu tunggal. Jangan pernah bertanya tentang ayah Lea. Bagi Tania, lelaki itu sudah mati  sejak hari dimana ia ditinggalkan. Lelaki itu memutuskan pergi saat mengetahui penyakit apa yang diderita darah dagingnya. Ia Pergi begitu saja. Sudah. Belum lagi anggapan orang-orang sekeliling dan keluarga besarnya pada Lea yang mereka sebut “sakit jiwa”. Tania sampai lelah sendiri menjelaskan penyakit yang diderita anaknya pada mereka. Awalnya hal tersebut membuatnya malu, marah, dan menyalahkan dirinya sendiri bahkan Tuhan. Tapi seiring perjalanan waktu, dia belajar untuk lebih ikhlas dan tegar menyikapi apa yang terjadi dalam hidupnya.

Mencari nafkah dan mencurahkan perhatian bagi sang anak yang berkebutuhan khusus bukan perkara gampang. Memasuki usia ke lima, kebutuhan Lea bertambah banyak. Sekolah, terapi dan segala tetek bengeknya menelan lembaran rupiah yang tidak sedikit. Gajinya sebagai seorang admin di sebuah perusahaan air minum memang tak lagi mencukupi. Beruntung dia masih punya ibu yang bersedia menjaga Lea dan ia bisa lebih fokus mencari uang. Komunitas-komunitas yang diikutinya juga sangat membantu Tania untuk mememahami keadaan Lea juga untuk menegaskan bahwa ia bukan satu-satunya orang tua yang dititipi hadiah istimewa.

Tania memilih bekerja sambilan sebagai badut panggilan ke pesta ulang tahun untuk memenuhi pundi-pundi kebutuhan hidup sekeluarga. Selain tidak bertabrakan dengan jadwal pekerjaan tetapnya, pekerjaan ini tidak rutin setiap harinya. Jadi ia juga dapat membantu ibu untuk mengasuh Lea.

***

“Kamu itu loh Tania, mending cari suami aja, daripada sibuk kerja siang malam buat kejar setoran. Lama-lama mukamu keriput sebelum waktunya. Untung masih ada ibumu buat jagain Lea. Nah kalo tiba-tiba dipanggil sama yang Di Atas gimana? Repot kan? Siapa yang mau jagain kalian berdua?”

Tania hanya melempar senyum kecut mendengar perkataan Tante Ida, teman ibunya yang sedang bertamu kerumah.

“Udah nanti tante kenalin deh sama pria-pria mapan. Asal kamu mau aja!”

Tania hanya mengangkat bahu lalu kembali menatap Lea yang sedang asyik membolak-balik buku berwarna ditanggannya. Entah apa yang sedang gadis kecil itu pikirkan. Dengan lembut dielusnya dahi Lea. Ada memar biru yang tertinggal disana akibat tadi pagi membentur-benturkan kepala di lemari buku. Tania tertawa kecil mengenang celoteh tante Ida beberapa menit lalu. Suami? Boro-boro. Pikiran untuk punya pacar pun tidak pernah terlintas dalam pikirannya.

“Mana ada lelaki yang bersedia menerima dia apa adanya? Dia dan Lea kecil dan segala anugerahnya?Mungkin ada. Tapi entah kapan.” Batin Tania lalu kembali tersenyum

***

Tania membuka kostum badutnya sejenak, disapunya keringat yang berdansa riuh diwajahnya. Hari yang sungguh melelahkan. Mumpung tamu-tamu sedang makan, ia memilih untuk beristirahat sejenak.

“Permisi, anda ibunya Lea ya?”

Tania mendongkakan kepala menuju suara bariton yang menghampirinya. Dilihatnya sesosok pria berkulit cokelat sedang tersenyum kepadanya. Keningnya berkerut, ia merasa tak mengenali pria tersebut.

“Darimana anda tahu saya punya seorang anak? Tah namanya lagi. Jangan-jangan anda salah orang Pak!”

“Perkenalkan saya Adrian. Salah satu guru disekolah Talitakum.” Ujar pria itu sambil mengulurkan tangan. Tania masih tampak ragu dan enggan mengulurkan tangannya.

“Wah maaf. Saya belum pernah bertemu dengan bapak sebelumnya. Anda kenal Lea?”

“Hehe. Itu wajar. Saya menangani kelas lain. Tapi jumlah murid di sekolah sedikit jadi saya hafal. Lagi pula setiap pagi saya sering melihat anda mengantar Lea ke sekolah.”

“Oh begitu! Hmm. Oh iya saya Tania, ibunya Lea.”

 “Sudah lama bekerja jadi badut?”

“Baru setahun belakangan kok, kan Lea harus sekolah Pak. Jadi saya harus kerja keras.”

“Perempuan hebat. Saya salut.”

Tania merasakan pipinya panas. Sudah lama ia tak dipuji seperti itu. Kalau saja tak ditutupi make up tebal, guru  dari sekolah Lea tersebut pasti sudah melihat pipinya bersemu merah.

***

Pertemuan pertama Tania dengan Adrian di pesta ulang tahun salah satu murid di sekolah Lea hari itu ternyata menghadiakan pertemuan-pertemuan selanjutnya. Apalagi Adrian ternyata adalah seorang lelaki lajang. Hari ini misalnya, Adrian akan menjemput Tania dari sebuah pesta ulang tahun. Entah sudah pertemuan keberapa sekarang, yang pasti hubungaan mereka berdua lama kelamaan menjadi semakin dekat saja. Sebagai seorang pengajar di sekolah berkebutuhan khusus, tentu tidaklah sulit bagi Adrian untuk membawa Lea masuk kedalam kehidupannya.

“Aku ingin lebih serius denganmu Tania!”

“Maksudmu?”

“Komitmen. Aku ingin menjalani sisa hidupku denganmu. Menikahlah denganku.”

Tania tersedak. Disemburkannya somay yang baru saja dilahapnya.

“Ka-kamu gak serius kan Adrian? Maksudku aku punya seorang anak dan dia kan,,”

“Terus kenapa?”

“Kamu terlalu sempurna buat kami berdua.”

“Hei, aku bukan yang sempurna. Kehadiranmu dan Lea lah yang menyempurnakan hidupku.”

Tania bergidik, hampir saja dia menangis mendengar kata-kata Adrian. Ditatapnya matta Adrian yang teduh. Ditariknya bibirnya tersenyum lalu menganggukan kepalanya cepat. Tania merasa sejuta kupu-kupu berterbangan dalam perutnya.

“Tapi aku boleh terus menjadi badut kan? Aku menyukai pekerjaan itu.”

“Hahaha. Tentu saja nona manis! Aku masih mau menjemputmu kok.”

Selama hidup belum ada hadiah yang begitu manis selain Lea yang ia dapati. Ia tersenyum lebar lalu mengenggam erat tangan Adrian.

#1087 Kata

PESTA NULIS: ULANG TAHUN KAMAR FIKSI MEL ke 1

9 thoughts on “Hadiah

  1. Manisnyaaa. Aku paling suka sama ini: “Hei, aku bukan yang sempurna. Kehadiranmu dan Lea lah yang menyempurnakan hidupku.”😀

    Tapi, kok, tumben masih banyak typo-nya, Kak?

  2. setuju sama A.A. Muiz, bagian “Hei, aku bukan yang sempurna. Kehadiranmu dan Lea lah yang menyempurnakan hidupku.” sukses bikin aku nangis sambil senyum. andai aja ada yang begitu ke aku #eh hahahaha >_<

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s