Prompt #03 MFF Idol: Warisan

“Berhentilah mengoceh, nanti kamu tambah kurus. Dan kamu, juga suamimu yang sok iye itu, jangan pernah menghubungiku lagi.”

Lamat-lamat masih kudengar perempuan itu bicara, setelah aku memutuskan cukup memaki-makinya, membalikkan badan dan berlalu. Pasti dia pikir aku berhenti karena ancamannya itu; Seperti dia mengira aku akan menerima semua alasannya yang tidak masuk akal. Biar saja. Buang-buang waktu dan tenaga kalau diterus-teruskan bicara dengannya. Dia tidak cukup cerdas untuk beradu bahasa. Lihat saja, dia ingin coba membalas memaki tapi tanggung benar. Kalau saja tidak kuingat bahwa disini adalah kantor pengacara, mungkin sudah kupukul dirinya dengan membabi buta. Perempuan tak tahu diri. Dia pikir dengan menjadi istri sirih, dia akan mendapatkan sebagian harta yang ayah janjikan kepadanya sebelum meninggal. Cih! Dia bermimpi terlalu tinggi.

***

Aku mematut diriku didepan cermin. Kuelus pipiku yang sudah kelihatan mulai tirus. Mungkin benar kata perempuan itu, aku bertambah kurus. Terlihat pantulan suamiku yang sedang sibuk membaca diatas tempat tidur. Sebaiknya aku tanya pendapatnya saja, cermin kadang berbohong.

“Sayang, apakah aku semakin kurus?”

“Siapa yang bilang?”

“Perempuan gila itu.”

“Kapan kau bertemu dengannya?” Suamiku mulai berjalan mendekatiku

“Tadi siang. Dia belum menyerah dan masih saja bersilat lidah denganku!”

“Sudah, sebaiknya kita berhenti saja. Aku sudah lelah berhadapan dengan perempuan busuk itu sayang.”

“Ma-maksudmu kita relakan saja? Begitu? Jumlah uang itu tidak sedikit!”

“Aku merasa kita kehilangan banyak waktu sejak kau sibuk mengurus perempuan itu. Setiap hari selalu dia. Apakah kamu tidak lelah? Sebenarnya hidup kita masih kurang apa lagi?”

Aku kaget mendengar nada bicara suamiku yang mulai meninggi. Jarang sekali dia berbicara dengan nada yang seperti itu padaku. Ini artinya dia benar-benar marah.

“Maafkan aku sayang! Aku tak bermaksud melupakanmu.”

Kuusap dada bidangnya perlahan lalu memeluknya begitu erat

“Aku rindu kamu, aku rindu kita, benar-benar rindu.” Ujar suamiku begitu lembut di telingaku.

Aku meraih wajahnya, lalu melumat bibirnya. Ah, mungkin sudah terlalu lama kami tidak melakukan ini. Sentuhannya benar-benar memabukkan. Tanpa banyak bicara, seluruh pakian kami sudah berserakan di lantai. Peluh berdansa di sekujur tubuh kami berdua disertai beberapa erangan manis.

“Berjanjilah, kau akan melupakan perempuan itu. Relakan saja.” Ujar suamiku tiba-tiba ketika kami habis bercinta.

Aku mengerutkan dahi tanda belum setuju dengan pintanya.

“Aku membutuhkan kamu lebih dari harta itu.”

Dia kembali memeluk tubuhku dengan erat. Malam ini akan menjadi malam yang benar-benar panjang.

***

“Kamu tenang saja, bercinta akan membuat pendirian istriku luluh. Ingat perjanjian kita, 25% untukku jika sebagian harta warisan menjadi milikmu.”

-send-

#399 Kata

14 thoughts on “Prompt #03 MFF Idol: Warisan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s