Menjerat Keheningan

Lantas di mana penantian ini akan berakhir
Pada sebuah pelabuhan teduh di matamu atau di kaki langit nan hampa?
Gerimis mega-mega pada bibirmu
Telah menambatkan hatiku teramat dalam di sana

Cintaku sebenarnya cuma sederhana
Layaknya kembang yang selalu ingin memeluk erat tangkainya
Sampai waktu melahap mereka
Tamat bersama

Maka kutuliskan puisi ini
Meski kutahu hanya daun-daun kering enggan gugur yang membacai
Lalu hujan menyudahi

Sia-sia…

Tak ada lagi tempat berteduh; tempat sempat berkeluh
Mata yang lamur oleh kabut-kabut bersulur duri berpulut
Menjeratlah puisi sunyi
Dalam dadaku banyak aksara yang semakin purba
Rindu berserakan tak kenal ampun di sana
Aku ingin sekali darah menghapus segala rasa
Tapi benda hangat itu hanya tertawa
Membuat rindu menjadi semakin sesak

Sesak…

Lalu perat
Aku terpenjarakan dalam kelindan luka-luka
Memanggilmu adalah angin
Berputar-putar meniupi debu paling debu
Lelah di kelilipan pelupuk berbatu
Adakah kau kembali, bukan berlengan hening?

    Maka aku yang melayangkan doa pada malam-malam sunyi
Semoga kau datang segera
Menyudahi kemarau panjang di dadaku

Puisi Kolaborasi dengan Lala

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s