Percakapan di Kota Kecil Itu

Dear Rachel,

Akhirnya aku memanggil nama depanmu ya. Setelah percakapan ditelepon beberapa jam lalu rasa-rasanya aku ingin terbang menuju Salatiga sekarang juga, lalu pergi denganmu bercerita berjam-jam di cosmo sambil menyesap cokelat hangat yang ditaburi bubuk kayu manis. Mungkin nanti kita akan memesan pancake dan es krim sebagai tambahan lalu ada duduk di sudut itu hingga akhirnya pergi saat waktu menunjukkan sebentar lagi cosmo akan tutup. Ah lagi-lagi rindu datang begitu saja, tanpa mau tahu posisi dimana sekarang kita berada.

Well, mungkin kita harus belajar mencukupkan diri Rachel dengan semua keterbatasan yang ada sekarang. Beruntunglah kita masih bisa saling bertukar cerita, itu sudah berhasil mengurangi rasa kangen. Apapun yang terjadi saat ini, yakinlah semua akan tetap baik-baik saja. Percayalah selalu ada harapan sekecil apapun peluangnya.

Masihkah ingatkah percakapan kita tentang pelangi kira-kira dua tahun lalu? Kau bilang jika menginginkan pelangi, kita harus menerima hujan dulu. Itu benar. Arungilah hujan yang datang padamu kini. Jangan pernah takut basah dan kedinginan, sebab sesungguhnya banyak tangan-tangan yang akan memelukmu hingga tubuhmu kembali hangat, termasuk tanganku.

Kita pasti akan bertemu lagi pipit. Sampaikan salamku pada ibu. Oh iya, jika besok bertemu babe, titip satu pelukan erat buatnya ya. Bilang padanya, berhentilah sejenak berlari dan rayakan ulang tahunnya dengan minum secangkir milo hangat. Take care there! Take care for Christin, Rany and Refi too.

Big Love,

Masya

10 thoughts on “Percakapan di Kota Kecil Itu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s