Perangkap

Nona,

Ingatkah kau saat terakhir kali kita hendak berpisah? Aku bilang padamu, tataplah aku sekali lagi dalam-dalam. Dan kau melakukannya dengan saat baik. Menatapku lalu mengakhirinya dengan sebuah kerlingan manja. Lagi dan lagi aku terperangkap dalam bola matamu. Bola mata teduh dan bening, yang membuatku menahan napas setiap kali tatapan kita beradu. Terlebih-lebih rona mata saat kau bercerita tentang obsesimu hidup dengan hiu paus disepanjang hayat. Aku ingin kau bercerita sekali lagi. Setiap sudut di matamu penuh ranjau yang memabukkan. Perangkaplah aku selamanya disana.

Aku harap hari itu, kapalmu dan kapalku tidak akan berlayar saling memunggungi supaya sampai ditujuan aku kembali menemukan surga di matamu dan tertawa mendengar ide gilamu. Sayang sekali, itu tak terjadi. Yang kudapati hanyalah debur ombak laut, dialog sunyiku dengan asap tembakau dan rindu padamu yang pelan-pelan mulai memburuku. Ah, biarlah jarak yang ada kini akan memurnikan segala rasa dan mimpi kita masing-masing.

Sampai berjumpa lagi Nona, semoga secepatnya.

With Love, Yours

8 thoughts on “Perangkap

  1. kapalmu dan kapalku tidak akan berlayar saling memunggungi supaya sampai ditujuan aku kembali menemukan surga di matamu dan teratawa mendengar ide gilamu

    Suka bagian ini

    Bagus mbak🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s