Prompt #37: Air Mata Rea

Sketsa Pribadi untuk MFF

Aku tidak mengerti mengapa aku dilahirkan seperti ini. Tiada kata lain selain sial, sial dan sial. Apapun yang berhubungan dengan emosi, entah senang atau sedih, aku selalu menangis. Aku bahkan sudah lupa bagaimana rasanya tertawa bahagia tanpa mengeluarkan air mata. Kata ibuku, dulu pada hari dimana aku lahir terjadi kejadian aneh di fairytopia. Air jatuh dari langit tiada hentinya. Padahal sebelumnya negeri kami belum pernah mengalami kejadian seperti demikian. Tanah-tanah menjadi basah, langit berubah kehitaman, mengerikan. Menurut peramal, dari sanalah segala kutukan itu berasal. Aku akan menangis selamanya.

***

Kapal-kapal penyelamat mengambang diudara saat seluruh penduduk negeri fairytopia berkumpul di alun-alun utama. Tempat yang biasanya sepi ini berubah menjadi begitu bising. Pohon-pohon rindang disekeliling juga tak mampu memberi keteduhan seperti biasa.

“Mungkin ada yang sudah mendengar desas-desus bahwa negeri-negeri selatan akan diserang oleh pasukan firetopia. Kita tidak bisa memprediksi namun raja sudah memutuskan agar peri perempuan dan anak-anak akan mengungsi ke daratan timur untuk mencari pertolongan. Para peri lelaki akan tinggal disini dan berperang. Satu atau dua hari kita akan terbang kesana.”

Seketika suasana menjadi semakin riuh menjurus tak terkendali. Aku hanya kaget lalu air mata mengaliri pipiku lagi. Aku bahkan tak bisa lagi mendengar apa yang juru bicara kerajaan bicarakan.

ah, inikah akhir dari fairytopia tanah kelahiranku?”

***

Airmataku mengalir dengan derasnya melihat fairytopia hangus terbakar api. Pohon-pohon bulb dengan bunga biru-hijau yang indah tak ada satupun sejauh mata memandang. Sepertinya harga perjalanan pulang dari daratan timur tidaklah seimbang. Hati semua penduduk negeri ini hancur berantakan. Tiada yang bisa mengembalikan fairytopia seperti keadaan awal dalam sekejap. Entah butuh waktu berapa lama untuk itu semua.

“Rea, lihat Rea! Bekas air matamu membuat ada tunas yang bermunculan.” Suara Lily membuyarkan lamunanku.

“Benarkah? Mana?

“Itu satu di kakimu, lalu itu, itu dan itu. Tempat-tempat yang tadi kau lewati kan?” Lily menunjuk-nunjuk dengan bibirnya.

Iya, benar apa yang dikatakan Lily. Disana ada tunas-tunas kecil bermunculan. Tapi apakah itu punyaku?

“Kau tidak percaya? Teruslah menangis Rea dan kau akan lihat bahwa air matamu benar-benar berguna kali ini.”

Aku kemudian menutup mata lalu menangis sejadi-jadinya dan benar saja disekelilingi tumbuh tunas-tunas hijau mungil. Semua peri yang menyaksikan kejadian itu kemudian menghampiriku dan memohon untuk aku terus menangis. Kalau boleh air mataku ditampung dan mereka bantu menyebarkannya keseluruh penjuru negeri.

“Menangislah dan kembalikan fairytopia Rea.” Ujar ibu sambil mengusap perlahan sayapku.

Akhirnya kini aku tahu, air mata yang keluar ini bukan kutukan. Ini hadiah terbesar dari fairytopia untukku. Aku ingin terus menangis.

#406 kata

7 thoughts on “Prompt #37: Air Mata Rea

  1. Pingback: Air Mata Rea |

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s