Tanpa Alasan

Daniel,

Dijalan pulang menuju kotaku, aku menuliskan surat ini. Udara Jakarta selalu sumpek, membuat kepala pening dan tak bisa membuatku benar-benar menikmati secangkir teh. Bahkan spagethi buatanmu sekalipun yang biasanya enak terasa biasa dimulutku. Mengenai pertanyaanmu semalam, jawabanku masih sama. Aku mencintaimu saja, tanpa alasan. Sudah. Apakah selalu ada alasan untuk melakukan sesuatu Daniel? Ah, kau memang selalu punya alasan, bla, bla, dan bla. Cerdas dan penuh gaya. Aku rasanya ingin menangis semalam saat kau terus memaksaku menciptakan paling tidak satu alasan mengapa aku mencintaimu. Aku tak menemukannya dan tak bisa berpura-pura. Mungkin aku perempuan bodoh yang tak mampu merangkai alasan atau alasan memang hal klise yang terlalu bodoh? Adakah harga dari sebuah alasan? Kalau ada biarkan aku membelinya atau jika bisa akan aku tukarkan dengan separuh cintaku padamu. Separuh saja supaya kau bisa berbahagia dengan caramu dan aku dengan caraku. Mencintaimu tanpa alasan itu sudah cukup.

Tertanda,

Laura

2 thoughts on “Tanpa Alasan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s