Pelabuhan

Tuan,
Setiap kali aku tiba dipelabuhan, kenangan kita hadir bagai dedaunan di musim gugur. Aroma laut yang berhembus turut membawa aroma tubuhmu. Asap tembakau yang manis dan asinnya laut merupakan perpaduan yang menyenangkan.  Potongan kenangan sedih dan gembira yang pernah kita buat merupakan potongan puzzle yang tidak akan bisa dihilangkan begitu saja, terutama bagiku. Disini tempat kita pertama kali bertemu dan memutuskan berpisah.
Aku benci otakku terlatih mengingat detail, lalu
bentuk alis dan rahangmu selalu saja hadir dimana-mana semenjak hari dimana aku memutuskan bersedia kau bawa hatiku. Hingga kini.

Mungkin kita terlampau naif saat pernah mencoba saling mempertahankan. Kita tak memperhitungkan bahwa beberapa jenis angin dalam kehidupan memang ditakdirkan untuk selalu menjadi penghancur. Kita selalu berlari dengan membawa luka lalu berpura-pura bahwa itu sudah sembuh benar dan kembali berlari dan menciptakan luka baru. Luka memang selalu tampak manis, menggoda untuk kembali diulangi.
Saat kita akhirnya benar-benar memilih untuk saling melepas hari itu, sungguh aku kehilangan arah. Aku susah merasakan indahnya tidur dan bangun pagi. Ada luka besar didadaku dan aku selalu berdoa untuk tak cepat kering agar kehadiranmu masih bisa kurasakan. Luka memang membuat candu.  Kau bahkan bilang dadamu sering sesak karena merindukanku. Tapi untuk kembali bersama itu sungguh mustahil. Ah, kita sudah ribuan kali membicarakannya. Tolong lupakanlah gagasan kekanak-kanakan itu sayang.

Aku ingin sesering mungkin menghindari pelabuhan, namun pekerjaanku selalu memaksaku untuk berkunjung kesana. Melupakanmu segera lalu tidak bisa menjadi tujuan yang harus segera aku penuhi.

Apakah kau masih sering berkunjung ke pelabuhan? Melihat ombak yang berkejaran dengan kapal atau sekedar menghabiskan rokokmu dan merenung. Jika kau membaca suratku ini, berkunjunglah sekali lagi ke pelabuhan ditempat kini kau berada. Entah kau ingat atau tidak, besok adalah hari pertama kita saling mengenal. Mari kita merayakan kenangan, dengan segala resah yang tersisa. Buatlah sebuah puisi untukku dan larungkan itu dilaut. Aku juga akan mengirimkan satu untukmu. Semoga itu bisa membunuh rindu dan sesal.

*with love* not yours anymore

2 thoughts on “Pelabuhan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s