#Prompt 41: Menjelma Abu

Dibawah terik mentari maret kita mengaduh. Air mata dan peluh telah lebur jadi satu di sekujur tubuh. Padahal hari ini seharusnya aku menjadi ratu sehari, tidak usah lagi berlari dan duduk manis meniup lilin angka dua puluh lima. Mungkin jika beruntung aku akan mendapatkan banyak kado lalu kamu membantu membukanya. Tapi kenyataan berkata lain, aku dan kamu masih saja berlari seperti dua tahun lalu. Kali ini diperparah dengan makian ibuku yang begitu nyaring terdengar. Kado yang aku diminta darinya tak dikabulkan : restu untuk kita menikah. Disepanjang jalan dalam gang rumahku, semua mata menimpa kita dengan tuduhan. Bahkan ada yang menghadiakan senyum cibiran. Namun aku dan kamu menepikannya. Kita semakin mengeratkan genggaman tangan.

Setahun berlalu.

Mentari Maret masih tetap terik. Terlihat oleh kita, ibuku datang berkunjung. Ia bersimpuh. Air mata dan peluh melebur jadi satu, menari riang di sekujur tubuhnya.

“Maafkan ibu Riany, ibu tidak berpikir akan kehilanganmu dengan cara seperti ini.”

Aku mengangguk dan berkata sudah memaafkannya. Tapi ia terus saja mengerang sambil memukul-mukul timbunan tanah. Mungkin ia tak bisa mendengar. Sehari setelah aku berumur dua puluh lima tahun kita sepakat memelihara cinta membara selamanya. Kita akhirnya meleburkan diri dalam api dan menjelma abu tepat di tempat ibuku masih meratap.

#201 Kata

Berdasarkan Fiksimini :

Lianny Hendrawati –  CINTA MEMBARA. Tubuh kita berdua menjelma menjadi abu.

23 thoughts on “#Prompt 41: Menjelma Abu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s