Prompt #44 : Perpisahan di Afgar

credit

Pagi yang dingin. Kabut turun tipis menyelimuti Afgar. Terlihat wajah Lee cemas. Ia semakin mengeratkan genggaman tangannya di jemari Myrion.

“Haruskah secepat ini? Maksudku kita bisa mencari alasan lain.”

Myrion menggeleng mantap. Ditatapnya lekat lelaki bermantel merah dihadapannya.

“Maaf, aku tak bisa lagi mengulur waktu. Tindakan ayahku tidak pernah terduga. Sekali lagi maaf, aku bahkan tak berani menjanjikan apa-apa untukmu.”

Myrion terisak. Air matanya hangat seketika dingin tersapu udara. Ia semakin menggigil.

“Aku harus pergi bukan karena aku tidak mencintaimu lagi, tapi kau tau pergi adalah satu-satunya jalan untuk menyelamatkan kamu dan seluruh kaummu.”

Lee mengusap wajah Myrion dengan lembut lalu mendekap erat sosok bersayap itu.

“Berjanjilah kau akan tetap hidup.”

Lee mengangguk lalu dilepasnya perlahan seluruh pusat hidupnya beberapa bulan terakhir. Perempuan itu akhirnya melangkah, menuju jembatan yang memisahkan Afgar dan hutan utara. Bayangannya perlahan-lahan hilang dan tak lagi nampak di mata Lee. Myrion harus segera kembali ke kediaman para peri disana. Ia tak mungkin kembali lagi ke Afgar untuk menjumpai lelaki yang dicintainya. Semalam, ayahnya mengancam jika Myrion berani pergi ke Afgar lagi maka seluruh bala tentara peri hutan utara akan melenyapkan seluruh manusia di desa tempat tinggal Lee. Permusuhan antara dua kaum ini memang tak bisa di selesaikan.

Ah, kadang cinta tidak datang tepat sasaran.

#208 kata – Ditulis untuk Monday Flash Fiction

6 thoughts on “Prompt #44 : Perpisahan di Afgar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s