Prompt #48: Cappucino Terakhir

#TentangKehilangan bisa dialami siapa saja. Bisa saja melahirkan luka, tapi tak jarang justru menciptakan bahagia. ~ @momoDM

“Bagaimana?”

Suara baritonmu memecah keheningan yang semenjak tadi hadir.

“Semakin rumit. Begitu banyak pertimbangan.”

Kau tertawa renyah sambil menyemburkan asap yang entah bagaimana membingkai wajahmu semakin tegas.

“Kalau iya, bilang iya. Kalau nggak, ya nggak. It’s okay.”

Aku memandangmu lekat-lekat. Kamu masih saja dirimu saat pertama kali kita bertemu. Berawal dari secangkir cappuccino yang salah tujuan, percakapan kita menjadi semakin hangat diawal Januari yang basah. Berbincang tentang puisi, ritme hingga candu terhadap pertemuan kembali yang semakin menjadi-jadi.

“Mengapa kita tidak terus saja menjadi sepasang kekasih dalam bait-bait puisi saja? Realita terkadang adalah lautan luka.”

Kau mengehela napas dalam-dalam lalu memejamkan mata sebentar. Mungkin sedang mengurai emosimu yang mulai naik.

“Jangan mulai lagi dengan mengapa.”

“Sebut saja aku bangsat! Aku tidak bisa meninggalkan dia. Cincin ini, melepasnya pun aku gemetar. Raut wajah keluarga besarku membayang dimana-mana. Tapi juga tak bisa meninggalkanmu. Denganmu semua lebih hidup.”

“Jangan bimbang. Pilihlah salah satu.”

“Bisakah aku diberi sedikit waktu lagi?”

“Aku tidak suka menunggu, kau tahu itu kan?”

Aku meremas jaketku erat. Sial! Lelaki yang baru kukenal 6 bulan ini berhasil membolak-balikan duniaku seperti ini. Padahal sepertinya orang-orang yang hadir terdahulu selalu memegang tanganku erat.

“Win, choose.”

“I can’t. Aku bahkan tak sanggup menatap wajah kecewa kedua orang tuaku. Ini terlalu gila.”

“That’s okay. I’m good.”

Kau menghabiskan isi cangkirmu lalu tersenyum menatapku.

“Berbahagialah dengan pilihanmu Arwin. I always love you, eventhough … Well, it’s a life isn’t?

Aku hanya membisu, membiarkan kata-kataku tertahan dibalik bibir. Lantas kau berlalu, berjalan membelah senja yang kelabu. Memang aku lelaki pengecut. Bahkan untuk mengucap maaf pun aku tak bisa. Terlintas wajah Liana, tunanganku. Aku akhirnya memilih meninggalkan lelaki yang kucintai sepenuh hati karena ketakutan dunia akan menindihku begitu besar.

Kusesap sisa cappuccino yang tinggal sedikit. Kali ini tak terasa manis seperti biasanya. Well, it’s a life isn’t?

#299kata – untuk MondayFlashFiction

20 thoughts on “Prompt #48: Cappucino Terakhir

  1. Wow..! kalau Liana itu cowok, cerita ini biasa saja. Nah.., masalahnya Liana ini cewek.. dan tunangannya hampir lari dgn si suara Bariton..
    Nah..lo..berarti dia………

  2. ah… kenapa kaum luth semakin banyak aja….😦
    tidak bisakah sejarah masa lalu jadi pelajaran
    ketika bumi dibalikkan dan penganut homo dan lesbi ditenggelamkan
    dunia ini bikin geram saja…

    ah… inikan sebuah cerita fiksi…
    o ya aku lupa…
    cerita yang membuat miris dan miris … masya

      1. mau miris bagaimana pun, buat aku orientasi seksual adalah pilihan pribadi seseorang opa. Dan aku menghormatinya🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s