Prompt #49 : Penawar Rindu

Masih teringat dalam ingatanku, saat pertama kali ibu mengenalkan pria itu. Tubuhnya tinggi semampai, dengan kulit cokelat menawan. Rambutnya bergelombang selaras bentuk wajahnya yang tirus. Wajahnya sebenarnya biasa saja, tidak terlalu ganteng seperti yang pernah kulihat di majalah atau televisi. Namun matanya bisa memaksaku tak berkedip dan berhenti lama disana. Ibu bilang, jangan pernah memandang matanya lama-lama nanti tenggelam dan susah keluar. Ibu memang benar. Hingga dua tahun ini, aku selalu menanti hari dimana bisa melihatnya lagi. Lelaki itu sering berpergian, hingga jarang sekali berkunjung. Biasanya tiga atau enam bulan sekali. Katanya dia pergi menaklukan ombak. Bayangkan betapa senangnya aku ketika dia tiba-tiba muncul didepan rumahku, dengan mata bersinar senang. Rinduku yang menggunung, lenyap seketika.

Akhir-akhir ini, dia sering datang berkunjung kerumah. Katanya dia sudah bosan bercinta dengan ombak. Tentu saja aku senang betul. Aku tak perlu lagi merasakan siksaan rindu. Kami sering sekali menghabiskan waktu dibawah pohon rindang dibelakang rumah. Itu dunia kami. Semuanya begitu indah hingga suatu ketika ibu datang dan berkata:

“Dinda, mulai besok Om Arkas akan jadi ayah kamu sayang. Ibu dan dia akan menikah.”

Lelaki bermata teduh itu menggengam erat tangan ibu dengan bahagia. Aku tergugu. Hatiku hilang terbang entah kemana.

#196KATA

13 thoughts on “Prompt #49 : Penawar Rindu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s