Jalan ke Surga

(tulisan ini sudah berumur setahun lebih – dibuat pada tanggal 2 Maret 2013)

Sudah mendekati satu abad aku tak lagimenemukan cahaya yang bisamendekatkanku dengannya. Aku dan dia terpisah ribuan tahun cahaya. Tak pernah sekali pun lagi aku bisa temukan hangatnya genggaman tangannya selama satu abad . Seakan- akan Tuhan masih ingin memberikan kami ujian untuk pengorbanan yang telah kami lakukan selama ini.

Jika memang benar Pluto dapat ditempuh dalam empat jam perjalanan dari bumi dengan kecepatan cahaya, mengapa aku dan kamu tidak dapat dipertemukan dengan cepat? Apakah surga itu terlalu jauh untuk dijejali? Semua orang berkata bahwa ada surga di bawah telapak kaki ibu. Aku pergi mengunjungi ibuku pada suatu sore. Di telapak kakinya kupanggil-panggil namamu mulai dari lembut hingga paling kencang sebisaku. Tapi yangtersi sa hanyalah bau kaki dan air mata yang menggenang di sudut mataku. Menyedihkan.

Ah, setiap malam, selalu kusiapkan beberapa hal untuk mendekatkanku denganmu. Pernah sekali waktu kuminta bulan untuk datang mendekatdeng an bumi. Tapi air pasang menjadi semakin besar ketika bulan mendatangiku. Banyak yang akhirnya celaka karena tsunami yang muncul dari tengah lautan. Di lain waktu pernah kuminta bintang menjadi kendaraanku untuk menyebrangi galaksi, tapi ternyata tetap saja tak bisa. Bintang jatuh ke bumi, dan menghancurkan sekian pegunungan dan meninggalkan lubang yang besar di sana.

Aku terkadang ingin menyerah. Bertahun-tahun seperti tak pernah terjawab semua doaku. Aku telah mencoba mencari-cari jalan ke surga beberapa tahun belakangan ini. Tapi selalu saja tersesat entah dimana. Aku ingin kembali dan menyerah saja. Tapi menyerah nampaknya bukan pilihan yang tepat untuk dijalani. Jika rindu sudah menjalari seluruh ruang logika, mahluk seperti apa yang akan membiarkan dirinya terus disiksa siang malam. Napas sesak yang tak pernah bisa normal siapa yang tahan? Aku tak peduli bagaimana orang-orang disekitar menatapku dengan tatapan paling menuduh itu. Mereka terlalu sewot. Jangan-jangan mereka belum pernah merasakan yang namanya rindu apa?

Dengan terus mencarimu napas sesakku sedikit ringan. Untuk itulah aku terus berlari dan tak ingin menyerah. Aku benar-benar tak ingin pulang. Selama seabad lamanya kucari setiap tulisan dan manuskrip di berbagai budaya di dunia, kuingin temukan jalan untuk menemuinya dan menggapainya dalam surga yang kini menyimpan jasad dan jiwanya. Tak hanya sekali aku mencoba mengorbankan nyawaku dalam setiap perjalananku menghampirinya. Gua- gua yang gelap, air terjun yang curam, dan lembah-lembah yang seakan-akan tak ada habisnya. Semua tempat kudatangi, semua orang bijaksana kupintai nasihatnya. Namun tak ada yang bisa memberikan jawabnya.

Aku tetap hanya menemukan kehampaan. Namun aku tak pernah menyerah. Aku akan terus mencoba mendekat dan berusaha menggenapkan rindu dalam dada ketika bertemu dengannya.

Sampai pada suatu ketika, pada malam yang ditakhtai purnama, aku bertemu dengan seekor kelelawar. Ia sedang memperhatikan purnama dengan mata sendunya. Kami terlibat dalam suatu percakapan panjang. Kelelawar itu sejatinya adalah pangeran dari negeri bulan yang dibuang ke bumi karena jatuh cinta dengan putri Matahari. Tapi sesampainya di bumi ia mendapati sang putri ternyata telah memutuskan menikah dengan siang. Semenjak itulah ia menjelma menjadi kelelawar yang hanya bisa keluar mencari makan pada malam hari. Ia benci siang dan matahari. Ia ingin pulang lagi ke negeri asalnya, di bulan sana. Tapi semua sudah terlanjur terjadi. Ia kini adalah mahkluk bumi yang kadang dikejar-kejar manusia untuk mencari sesuap nasi. Ia menyesal telah berkorban sejauh ini.

Aku terhenyak mendengar ceritanya. Lalu, salahkah aku bila berkorban dan memperjuangkan rinduku? Aku tak bisa berbicara banyak setelah mendengar sang kelelawar berbicara. Ia yang awalnya hidup dalam kehidupan yang baik dan ada dalam kekuasaan yang penuh dengan kedigdayaan, ternyata kini hanya bisa hidup dalam kegelapan, di satu sisi kehidupan yang sebelumnya tidak pernah ia inginkan.

Rindu yang kemudian harus kujaga setiap saatnya ini semakin lama semakin membuatku kelelahan. Aku tak bisa melawan Tuhan atau kemudian mencercanya karena syarat yang Ia berikan kepadaku dan kekasihku. Dulu kami sebenarnya bersama, tak pernah sekali pun terpisahkan, namun karena kesalahan yang kami perbuat. Tuhan mengambilnya, membawanya ke surganya, dan meninggalkanku sendiri di buminya. Aku hidup dalam penantian yang tak berujung.

Dan hingga seabad berlalu, rindu itu masih menginginkan untuk menemui muaranya. Semoga dalam perjalananku besok, aku segera menemukan jalan yang tepat menuju surga. Semoga tak ada lagi kehampaan yang berkepanjangan. Aku tidak lagi muda dan kaki-kakiku telah menjadi begitu mudah lelah. Napasku semakin sesak karena selesma dan rindu yang sama-sama merebut pasokan oksigen dalam ragaku. Kenapa oksigen ini tidak menjadi racun saja seperti beberapa eon lalu?

Hai Tuhan, Tuhannya semua manusia yang percaya tunjukanlah jalanku menuju surgamu. Karena dalam diriku ada kerinduan yang tak berjeda semenjak hari kau ambil kekasih hatiku itu.

Tulisan Kolaborasi: Teguh Puja dan Masya Ruhulessin

One thought on “Jalan ke Surga

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s