Broken Rhapsody

“Randy akan menikah minggu depan. Undangan khusus untukmu ada dirumah. Pulanglah dan jangan berlari terus Lea.”

Aku membaca sekali lagi pesan teks yang baru dikirim kakakku. Lalu ingatan kemudian mengalir deras, menari-nari dengan irama konstan. Dingin malam ini semakin menjadi-jadi. Tubuhku mulai mengigil perlahan. Dada kiriku agak nyilu hendak meletup. Ah luka itu masih saja begitu jelas. Sayup-sayup terdengar suara lembut Adele mengalun dari music box :

You know how the time flies, only yesterday was the time of our lives-*

Aku mulai mengunyah cheesecake dihadapanku perlahan, menikmati hujan lalu mulai berziarah tentang kemarin.

***

Lelaki itu, Randy, aku mengenalnya separuh dari usia hidupku. Kami teman lama yang akhirnya memutuskan untuk menjadi sepasang kekasih. Lima tahun sepertinya waktu yang cukup untuk mengenal seseorang dengan baik. Semuanya berjalan dengan baik hingga suatu malam, di Maret yang hangat, jalan dihadapan kami mendadak gelap.

“So love, we will discuss about?”

“Aku dipindah tugaskan ke Jogjakarta”

“Hah? Kapan? Kamu gak lagi bercanda bukan?”

“Baru saja tadi.”

“Udah gak bisa dinegoisasi lagi? Ngapain kek, apa kek?” Kudengar suaraku mulai meninggi

“Sudah dicoba selama seminggu ini, tapi tidak ada opsi lain. Perusahaan butuh orang disana.”

“Lalu kita? Penerbit gak mungkin aku tinggalin!”

“Ya gimana lagi. LDR. Jogja – Jakarta cuma 45 menitan kok.”

“Untuk jangka waktu berapa lama?”

Randy mengangkat bahu sambil memejamkan matanya. Keheningan seketika merasuki kami. Desahan napas beratnya sesekali terdengar berlomba dengan bunyi ketukan jariku dimeja.

“Jarak hanya kesementaraan sayang.” Suara baritonnya berhasil memecah kebekuan.

“Percayalah kita akan baik-baik saja.” Ujarnya lagi sambil menggenggam erat jemariku. Mataku mulai berair, tak ada satupun yang bisa aku pikirkan saat itu. Yang kutahu adalah harus menggenggam tangannya begitu erat.

***

Lantas kita berpisah. Sering menghabiskan waktu di malam hari untuk saling bercerita via telepon, tidur menjelang pagi, bangun kesiangan, sering menggerutu ngantuk dikantor, menghabiskan bergelas-gelas kopi untuk membuat segar. Kita candu. Rindu mengalir begitu deras. Lima bulan pertama yang melelahkan. Bayangkan untuk tujuh tahun kebersamaan, kita harus mengalah untuk takdir yang benar-benar diluar kendali kita. Sial. Siapa yang menyangka? Seperti janjimu, tiga minggu sekali kau sering datang mengunjungiku di Jakarta. Akupun pernah berkunjung ke Jogjakarta dua kali.Rasa rindu memang selalu bisa terobati. Benar bahwa jarak adalah kesementaraan. Kita sungguh percaya itu.

***

Enam bulan berlalu. Kita sepertinya baik-baik saja menjalani ini. Ah, tidak kita merasa baik-baik saja. Kita berjumpa banyak orang baru disekeliling, belajar banyak hal baru, melakukan hal-hal diluar kebiasaan. Kesibukan entah tumpah dari mana. Kau sibuk dengan pembukaan cabang baru di daerah Magelang, aku sibuk dengan tuntutan akhir tahun yang menggila. Lalu kita menghentikan kebiasaan tidur larut, menghemat pertemuan, dan memilih beristirahat lebih banyak. Wajar kita lelah. Kita menunggak banyak rindu. Mungkin juga jenuh memuncak dengan semua ketiadaan hadir. Tapi kita tak ingin menyerah pada jarak. Kita masih saja percaya bahwa jarak adalah kesementaraan. Bahwa kenangan itu selalu bisa menggairahkan api cinta yang redup. Kita terus berjuang seperti mengulang bagian tertentu pada sebuah lagu favorit, berharap tak akan pernah lelah bernyanyi.

***

“Aku menemukan seseorang yang lain. Maafkan aku Lea.”

“WHAT???”

“Temukanlah juga seseorang yang lain lalu mulailah melupakan aku.”

“Hah?”

“Jarak terkadang mengubah begitu banyak hal. Maafkan aku.”

“Harusnya,”

Tut …Tut …Tut…

Aku buru-buru mengecek tanggal. Ternyata ini bukan 1 April. Lalu kembali kutekan nomor Randy. Hanya suara operatorlah yang aku dapatkan. Aku berusaha tenang, mengumpulkan semua jiwaku yang berpendar dalam beberapa menit terkahir. Kucubit pipiku keras. Ini bukan mimpi. Lalu dadaku seketika sesak. Aku merasa ingin mati. Basahnya mata tak lagi bisa kuhindari. Entah berapa lama aku begitu hingga hari sudah berubah gelap. Hari minggu yang tak lagi manis. Rumah begitu senyap semua belum kembali dari Bandung. Kuraih dompet dan handphone segera lalu berjalan keluar rumah. Jakarta semakin sesak. Lantas kuputuskan untuk mengembara.

“Mau kemana neng?”

“Kemana saja pak.”

Supir taxi melirik spion dengan raut wajah aneh.

“Jalan-jalan saja pak. Kemanapun bapak suka. Saya pasti bayar.”

Taxi kemudian membelah Jakarta bersama aku dan hati yang patah. Jalan masih saja macet mirip pikiranku. Beruntung supir taxinya tak banyak bicara. Perjalanan kami hanya dimeriahkan suara penyiar radio, bising jalan dan sesekali operator dari perusahan taxi. Aku menyesap udara, mencoba menikmati pengalihan itu.

***

Kulihat seksama foto-foto yang ramai di timeline pagi ini, isinya melulu kamu dan bahagiamu. Kemarin kamu resmi menjadi suaminya, wanita yang berhasil memikatmu di Jogjakarta kala itu. Wajahku kini tak bisa terdefinisi ekspresinya. Wajahmu masih saja sama seperti setahun lalu, saat kau datang menemuiku untuk menegaskan bahwa kamu dan aku tak bisa lagi menjadi kita. Lantas aku memutuskan pergi dan tinggal di Makassar. Setahun berlalu tak kunjung membuatku berani bejumpa lagi denganmu. Aku tak memenuhi undangan pernikahanmu.

Foto-foto yang menarik. Aku tersenyum. Kusesap susu cokelatku hingga tandas, tapi entah mengapa pahit masih saja terasa dilidah. Luka itu masih ada dan butuh waktu serta kemauan besar supaya sembuh. Kepercayaan memang tak pernah cukup untuk sebuah hubungan, setidaknya denganmu. Mungkin nanti, entah kapan, aku akan menjumpai seseorang yang dengannya jarak benar-benar menjadi sebuah kesementaraan. Yang dengannya, aku tahu bahwa segalanya akan terasa cukup. Selalu.

*Penggalan Lirik Someone Like You – Adele

6 thoughts on “Broken Rhapsody

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s