Menemukan Rumah Yang Tepat

Say All I Need
Say All I Need

Saya sering mengibaratkan komitmen yang dibuat dengan pasangan bagai tinggal didalam sebuah rumah. Ketika kita tak lagi nyaman didalamnya, entah apapun masalahnya, akan selalu berujung pada dua pilihan, leave it or fix it. Saya termasuk orang yang memilih opsi pertama. LEAVE IT. Pernah beberapa kali saya mencoba opsi kedua, tapi sepertinya opsi itu tak pernah berhasil untuk saya. Saya terkadang begitu lelah membuang energi untuk memperbaiki masalah (yang biasanya tetap sama) dan meredam ego pada jangka waktu tertentu. Karena saya yakin betul, potensi konflik terjadi lagi di kemudian hari masih besar. Apalagi akar masalah masih saja sama, itu itu melulu dan sepertinya jalan keluar adalah kemustahilan. Buat apa terus tinggal di dalam rumah yang menguras begitu banyak energi? Padahal rumah adalah tempat kita untuk melepas lelah, berleha-leha, meraih kembali enargi. Saya sadar benar, dalam hubungan dengan orang lain bukannya tanpa masalah. Tapi jika selalu berputar-putar dalam lingkaran yang sama? Oh C’mon. The world is so wide dude.

Beberapa orang suka untuk memperbaiki rumah mereka yang rusak, ditambal sana-sini biar (terlihat) layak ditinggali terus. Saya sempat bertukar cerita dengan beberapa orang yang memilih bertahan dengan pasangan lamanya meskipun jelas-jelas mereka sudah tak lagi nyaman satu sama lain. Misalnya mengalami curiga berlebihan dan malas membangun interaksi dengan pasangannya. Bahkan ada yang setiap hari bertengkar untuk masalah-masalah yang katanya kecil!!!! Bayangkan ketika kalian tinggal di dalam sebuah rumah yang sudah bocor sana-sini, yang keran airnya sering mati, belum lagi sepertinya jalan untuk mencapai pemecahan masalah selalu buntu. Kita ngomong aja sama tembok.

Saya tahu, memutuskan untuk pindah dan mencari sebuah rumah baru bukan perkara mudah. Kita enggan beranjak dari tempat yang lama (meskipun karena tak lagi nyaman) biasanya karena rumah tersebut menyimpan banyak kenangan. Sayang jika semua pengorbanan yang sudah kita usahakan untuk rumah itu kita abaikan begitu saja. Belum lagi pemikiran mengenai masa depan yang belum pasti jika akhirnya kita memutuskan untuk memilih rumah yang baru. Ketakutan akan ketidakpastian memang mengerikan.

Pergi dan melupakan kenangan adalah seperti meletakan pisau sekian sentimeter di depan leher kita. Jika nekat menusukan leher kita sekuat tenaga kesana, mungkin kita akan mati. Bukan mati secara harafiah, tapi mirip orang yang hatinya hancur, mati semangat hidup. Tak ada yang pernah siap untuk pergi meninggalkan tempat yang dia sudah tinggali lama. Lalu banyak yang memilih tak beranjak dari rumah lama mereka, meskipun penyakit mengancam ketidaknyaman semakin banyak datang.

So, sudahkah kalian menemukan rumah yang tepat sekarang? Atau sedang mencari? Jangan terlalu ngoyo mencari, biasanya semakin mau ingin jedot-jedotin kepala di tembok. Well, jika sudah menemukan, sudah yakinkah bahwa rumah yang sekarang anda diami adalah yang paling tepat? Pernahkah kita menimbang-nimbang di suatu malam yang tenang, jika pergi dan melupakan nantinya bisa berubah menjadi sebuah kebutuhan? Bukan lagi hal yang bisa ditawar dengan kenangan atau ancaman pistol di kepala sekalipun. Beranikah kita memenuhinya?

Selamat merenung, selamat menemukan rumah yang tepat.

2 thoughts on “Menemukan Rumah Yang Tepat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s