Dari Kirara untuk Seekor Gagak

Dari Kirara untuk Seekor Gagak
Dari Kirara untuk Seekor Gagak (Sumber)

Judul : Dari Kirara untuk Seekoor Gagak

Penulis : Erni Aladjai

Penerbit : PT. Gramedia Pustaka Utama

Editor : Primadona Angela

Desain Sampul : Resatio Adi Putra

Dari Kirara untuk Seekor Gagak merupakan novel kedua Erni Aldjai yang saya baca. Sebelum mulai membaca, saya mengosongkan terlebih dahulu kepala saya dari hal-hal berbau “Kei” untuk larut ke dalam buku ini. Novel ini mengambil setting di Sapporo, kota berpopulasi keempat terbesar di Jepang. Mae adalah seorang gadis Indonesia yang berkuliah di jurusan Humaniora, universitas Hokaido. Takdir mempertemukannya dengan seorang lelaki Jepang, Ken Shimotsuke, penyewa baru apartemen yang dulu dihuni mendiang kakek Yoshinaga, teman Mae. Ken yang misterius membuat Mae penasaran dan mendekatinya.

Sebelum tinggal di apartemen, Ken tinggal di rumah bersama ayahnya. Sayang, hubungan antara keduanya tak harmonis semanjak kematian sang ibu. Ken mempersalahkan ayahnya yang tak ada saat ibunya dibunuh saat dia kecil. Dia yang menyaksikan langsung peristiwa naas itu, kemudian bertekad mencari sang pembunuh dan membalaskan dendam. Berkat kemampuannya meretas, Ken berhasil menemukan dimana pembunuh ibunya berada. Ditengah upaya balas dendamnya, ia memutuskan untuk pindah ke apartemen. Tak disangkanya, disana ia bertemu dengan Mae, yang akhirnya bisa mencairkan kebekuan hatinya.

Sebenarnya ide ceritanya klasik, seorang lelaki dingin akhirnya bisa menjadi hangat berkat kehadiran seorang perempuan. Namun sisipan ketegangan yang hadir dari realisasi balas dendam Ken membuat novel ini tak membosankan. Sayangnya, plot yang dibangun seperti terlalu cepat hingga kesan terburu-buru ingin menuntaskan konflik terasa. Saya juga  seorang pembaca manga Jepang, dan sepertinya karakter Ken terlalu soft untuk seseorang yang hidup dari latar belakang masa lalu mencekam. Karakter Mae disini,  karena terlalu labil atau entahlah, saya pribadi tidak terlalu menyukainya. Dari tengah sampai akhir novel, alur cerita cenderung tenggelam dalam penyelesaian konflik Ken sehingga Mae semakin redup. Bagaimana hubungannya dengan kakaknya? Dengan sekolahnya? Bukankah dia juga tokoh utamanya? Saya sebenarnya berharap kisah diawal novel mengenai persahabatan Mae dan kakek Yoshinaga akan dieksplor lebih lanjut. Juga kisah mengenai nenek Osano dan tokoh lain yang cuma numpang lewat saja.

Terlepas dari semua itu, gaya Erni bertutur adalah penyelamat. Ia berhasil menghidupkan setting tempat dengan baik. Saya merasa seperti sedang berada di Jepang, kedinginan lalu hangat kembali setelah menyantap ramen di kedai nenek Osano.

3 dari 5 bintang untuk buku ini.

3 thoughts on “Dari Kirara untuk Seekor Gagak

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s