Anti-Mainstreem

Guys di dunia ini, sesempurna apapun hidup kamu, suatu ketika kamu akan mencapai puncak bosan yang bikin kamu pengen mojok sambil ngunyah baygon mat aja. Ketika kamu bangun pagi, lalu melakukan rutinitas yang nyaris sama seperti kemarin dalam jangka waktu yang lama sekali. Mampu? Aku sih No, gak tau kalau mas dhani.

Rutinitas itu lama kelamaan akan jadi kebiasaan dan jika terjadi hal-hal diluar kebiasaan itu, lantas kita panik. Misalnya saja kamu sudah pacaran 52 minggu dengan pacarmu. Setiap pagi dia akan mengirim kamu sms seperti “Selamat pagi sayang” atau “I miss you bebh” atau apapun itu. Lalu pada suatu hari, di awal minggu ke 53 usia pacaran kalian, dia  tidak mengirim sms ke kamu karena hapenya mati total, chargernya entah siapa yang ambil. Dan kamu di kosmu sudah panik, takut dia kenapa-napa di sana misalnya dia lagi tidur dengan cewek laen. Kamu udah nangis bombay di kos, curhat lebay sana sini. Siangnya dia datang ke kosmu, mau pinjam charger. Kamu mentapnya dengan berapi-api sambil berucap “kita putus aja!!” cuma gara-gara hal yang menyimpang dari kebiasaan yang selama ini udah lo jalani. YAELAH BRO! Hidup memang rumit.

Soal setiap pagi di sms begitu sama pacar , saya sendiri agak gimana gitu. Mungkin karena saya bukan orang yang begitu peduli dengan hal-hal demikian. Atau sering dapat pacar yang cuek gila. Tapi man, kalo kamu gak di sms sama dia, kamu masih tetap hidup. SERIUS. Ketika pacaran, kita harusnya sadar sedang pacaran sama manusia juga yang tak sepenuhnya sempurna, bisa kehabisan pulsa atau lagi gak mood liat muka kita. Beda kasus kalo lu pacaran sama pos hansip atau boneka. Ya emang sih agak kehilangan, tapi lama-lama juga biasa dan kemudian saling melupakan. HAHAHA

Kita melakukan hal-hal yang mainstreem, yang sering dilakukan orang lain biar apa? Tentu aja biar kelihatan normal. Semua orang suka terlihat normal. Kalo lu lagi pacaran LDR, dan biasa kontak-kontakan cuma seminggu sekali via telepon mereka akan bilang “hubungan macam apa itu?”. Padahal mungkin kalian lagi hemat duit pulsa buat beli tiket kereta untuk ketemuan. Kalo lu pacaran dan jalan gak pegangan tangan mereka bilang “Kalian bertengkar ya?” Padahal kalian gak pegangan tangan karena tangan suka keringatan. Kalo belum punya pacar di usia 27, orang akan nyangka kamu homo. Padahal kamu lagi tak ingin menginvestasikan tenagamu dengan hal begitu dulu karena sedang nyusun tesis. Gilak nyusun tesis itu ribet kamprettt. Bu susi, yang punya tato dan ngerokok di istana pun dicerca abis-abisan. Padahal kenal dekat dia pun tidak. Mau ngerokok dan punya tato kan hak asasi dia nyet. *kunyah rokok*

Orang suka banget ngerajam kita dengan tuduhan-tuduhan jika kita tak berlaku normal sesuai ukuran pikir mereka. Apa sih itu normal? Bukankah relatif banget? Bisa aja bagi kamu cium pipi mama sebelum ke sekolah normal tapi bagi orang lain itu lebay. See, ukuran normal itu luas banget kan? Gak cuma selebar bahu doang.

Berhentilah menjadi mainstreem, yang punya kepala dengan segudang tuduhan. Apa kita ndak bosan ya kepala isinya gituan melulu? Nanti aku banting meja loh macam anggota DPR RI itu biar pecah ndas e. Jadi besok cobalah bangun dengan kepala anti-mainstreem. Mungkin kita akan lebih bahagia.

11 thoughts on “Anti-Mainstreem

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s