Suatu Ketika, Kala Hujan Datang

Bandara, sebuah  tempat yang menciptakan begitu banyak kemungkinan, mengenai perjumpaan dan perpisahan, mengenai duka dan tawa, mengenai janji-janji yang ditepati dan diingkari. Disana pertama kali aku  menemukan matamu, teduh bagai lautan. Lalu entah keberanian dari mana yang membuatku berjalan mendekatimu, menciptakan kemungkinan. Cerita-cerita selajutnya mengalir dari kepala, begitu alami bersahutan, begitu saja.

“Jadi boleh aku tahu namamu, Nona?”

Kau tersenyum kecil, mungkin sengaja memamerkan kolam kecil dipipimu. Ah manis.  

“Akan kuberitahu jika ada pertemuan berikutnya.”

Kau kemudian berpamitan singkat, katanya hendak pulang dan aku tak bertanya lagi kemana. Lantas kau meninggalkanku dengan sejuta tanya , merayakan menit-menit terakhir di Soekarno Hatta dengan kepala gaduh.  

***

Desember datang. Itu artinya Salatiga kian senyap lalu hujan pun akan selalu sering turun di kota kecil ini. Aku membenci hujan dan kegelapan yang menyertainya. Betapa itu mengingatkanku pada duka yang kelam, pada kematian dan kesengsaraan tak berujung. Bersamaan dengan turunnya hujan, seolah dunia sekelilingku berguncang hebat, emosi negatifku ikut-ikutan melonjak. Tapi tak ada lagi lain waktu untuk, kembali ke rumah, selain sekarang. Merayakan natal, merayakan rutinitas, membangun harapan, membuat cerita baru lalu kembali menerjang badai di Jakarta.

Malam setelah aku tiba disana, aku memutuskan untuk menikmati udara kota yang dingin lagi pekat.  Baru saja seperempat perjalananku, hujan turun seketika dengan lebatnya. Sial. Lalu aku terjebak, disebuah kafe buku mungil, di tepi jalan, dengan perasaan kesal. Menunggu itu memang  perasaan mengerikan setelah dicampakkan. Kusesap rokokku dalam-dalam, merutuk pada dewa langit,  semoga dia punya sedikit belas kasih.

“Hai, kita pernah berjumpa di bandara bukan?”

Aku tergelak mencari sang pemilik suara. Dan kau tersenyum ke arahku, masih dengan kolam berisi madu pada ke dua pipimu.

“Krisan.” Ujarmu sambil mengulurkan tangan yang segera saja aku sambut.

“Adi. Kau menepati janjimu. Terimakasih.”

Dan seperti percakapan beberapa bulan lalu di bandara SoeTa, segala isi kepala tumpah, saling mengisi dan mencari-cari wadah untuk bertumbuh. Diluar hujan masih turun dengan deras. Namun hadirmu entah bagaimana bisa secara ajaib menghangatkan. Aku akhirnya sepakat dengan diri sendiri bahwa akan mulai melupakan kebencianku pada hujan.

***

Kau selalu datang bagai hujan, semerbak merekah, walaupun begitu sederhana nampaknya. Satu minggu mengenalmu lebih dekat sepertinya sudah cukup untuk membuat hatiku penuh dengan gejolak aneh.

“Aku sepertinya mulai mencintaimu.”

Kau terbahak. Ada nada yang sarkas di dalam sana.

“Ada yang salah?”

“Kau mungkin hanya kasmaran.”

“Itu kan awal dari semua proses mencintai?”

“Emangnya semua kasmaran akan berakhir dengan mencintai?”

Lalu aku terdiam, mengamati bibir kecilmu yang sibuk bergerak menyiulkan Imaginenya The Beatless.

“Pada akhirnya aku selalu saja kalah denganmu.”

“Makanya belajar untuk jadi pemenang. Lelaki kok gitu.”

Aku hanya tersenyum miris. Pertemuan denganmu membuatku berkontemplasi lebih banyak. Tuhan selalu punya waktu yang tepat untuk membuat kita lebih bimbang. Prinsip-prinsip yang sepertinya telah menjadi harga mati dalam hidup, pada akhirnya harus kita  biarkan terbang bebas menentuan arahnya sendiri. Apakah ini lelucon atau memang hal-hal seperti yang pantas terjadi?

“Orang-orang sering sekali menyalahkan waktu, Adi. Apakah pantas?”

“Seperti mengapa kita baru bertemu sekarang dan tidak dari dulu?”

“Semacam itulah. Padahal semua waktu adalah tepat. Kita hanya menyalahkan sesuatu yang lebih abadi dan itu tak ada gunanya.”

Memang tak pernah mudah mencerna isi kepalamu. Atas nama Neruda dan Verlaine, aku lebih baik dalam menerka maksud puisi-puisi mereka dari pada isi kepalamu. Kau kadang serupa angin, melayang-layang bebas, menyentuh langit dan begitu mudah dibaca. Kadang kau begitu gelap, mendekat ke pekat, tak bisa tersentuh. Namun terkadang juga kau menjelma batu karang  kokoh, yang bila diserang berlebihan justru akan melukai yang menyerang. Hal-hal itu kemudian menjadikanmu begitu menarik untuk terus kuselami.

***

Januari, bulan yang basah dan penuh dengan resolusi. Bekas hujan, kau, aku dan setangkup roti sedang menikmati hari. Kenangan tentang percakapan kita berulang-ulang dalam ingatanku. Kau hanya memandang langit, entah apa yang kau pikirkan.

“Aku harus pulang. Jika ada kesempatan kita akan bertemu lagi?”

“Jika? Berarti bisa segera. Kemungkinan selalu bisa diciptakan bukan?”

Aku terseyum mendengar ocehanmu. Ah perempuan ini.

“Aku sudah mulai merindukanmu. Bisakah kita berkomunikasi lewat apapun sesering mungkin?”

“Rindu itu membunuh, biarlah kita tak lagi berbincang lebih banyak. Ya kamu harus kembali dengan kehidupanku, begitupun aku. Jadi bisakah kita tepikan rasa ini?”

Aku tergugu. Kata-katamu membuat awan-awan hitam memenuhi langit lebih cepat. Hujan turun satu-satu, bagai jarum yang menghujam dadaku. Dan kau pun berlalu, tanpa pelukan atau ucapan selamat tinggal. Kau berjalan memungungiku, membelah langit. Aku akhirnya tahu, bagaimana rasanya ditinggalkan begitu saja. Tak ada lagi daya untuk mengejar dan membicarakan kemungkinan lain. Hujan, entah harus kubenci atau kucintai.  

***

Menamatkan rindu hanya ada dua cara. Yang pertama adalah melangkah mendekati maut, supaya rindu lenyap bersama raga. Cara kedua adalah dengan menciptakan sebuah pertemuan. Desember lagi. Tak terasa setahun berlalu. Bandara masih saja menjadi tempat yang magis untuk sebuah perjumpaan serta perpisahan. Beberapa hal disini telah berubah tapi kenangan tentang perempuan berlesung pipi selalu hidup setiap kali aku berkunjung ke sini. Rindu membuncah terkadang datang sesukanya, menyesakkan dada, mencipta luka.

Aku sering sekali membayangkan pertemuan dengan dia, perempuan itu, Krisan, tanpa sengaja sekali lagi. Mungkin saja nanti Tuhan berbaik hati, mungkin saja semesta khilaf dan menghadiakan pertemuan.

“Takdir itu aneh ya?”

Suara itu, aku menggeleng-gelengkan kepalaku. Enggan mencari asal suara di sekeliling.

“Hei, apa kabarmu? Mau ke Salatiga lagi?”

Gaduh di kepalaku seketika menjelma sepi saat sinar matamu mengarah padaku.

“Aku? Seperti biasa, masih berpikir begitu banyak hal.”

“Sudah dieksekusi?”

“Beberapa saja. Kamu apa kabarnya?”

“Menemui pemilik rumah yang kosong.”

“Oh, kamu ingin beli rumah di Salatiga? Bukannya sudah punya?”

“Kamu! Aku ingin menemui kamu.”

“Aku?”

“Setelah kamu pergi, aku memikirkan banyak hal. Bisakah kita menciptakan sebuah kemungkinan lagi? Tentu saja kita harus menyepakati beberapa hal.”

Aku tercekat. Aku tidak tahu bagaimana caranya meluapkan isi dalam kepalaku, dadaku sesak, ingin terbakar. Tapi tanganku, entah bagaimana menjalar ketanganmu lalu mengisi ruang kosong diantara sela-sela jemarimu.

“Aku, pada satu titik pernah begitu takut mencintai dan dicintai. Makanya, aku pergi ketika kau menawarkan kemungkinan itu. Tapi orang-orang selalu berubah, demikian pula aku. Aku telah menakar dan menimbang begitu banyak hal. Jawabannya, aku butuh dicintai dan mencintaimu. Apa ini adalah waktu yang tepat?”

“Setiap waktu memang selalu tepat kan, Krisan?”

“Ya, selalu.”

Hujan mulai turun membasahi tanah. Kau lantas menggam jemariku semakin erat lalu kita sama-sama berjalan pulang menuju kota tempat segalanya berawal, menciptakan berjuta kemungkinan. Rindu memang selalu tepat waktu untuk ditamatkan.

6 thoughts on “Suatu Ketika, Kala Hujan Datang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s