Sebuah Kemungkinan

Dear you,
Masihkah hujan membasahi langitmu sekarang? Aku menulis ini saat matahari sudah mulai bersembunyi dibalik awan, mungkin sebentar lagi hujan tapi semoga saja tidak.

Love,
Jika dipikir-pikir, maka tak akan ada habisnya. Bagaimana takdir memperlakukan kita bagai ombak, memukul kita kian kemari menuju pantai-pantai asing dan pada akhirnya mempertemukan kita dalam kekinian. Berapa lama kita saling mengetahui? Tujuh tahun bagiku, delapan tahun bagimu. Ah, waktu yang begitu panjang. Lalu baru saja setahun belakangan saling membuka diri.

Kadang kau sering menggerutu, mengapa kau tidak datang padaku sedari dulu saja? Mengapa harus ada jeda delapan tahun hanya untuk mengumpulkan keberanian?

Love, semua waktu adalah tepat. Mungkin ketika kita dipertemukan lebih dini tak ada aku dan kamu yang seperti sekarang, tak ada kamu dan aku yang entah punya kekuatan darimana mampu menerobos sekat-sekat paling tak masuk akal. Jadi kini adalah waktu kita, terserah orang mau menilai apa. Who cares?

Aku tahu, ini tidak akan pernah mudah. Sejak hari dimana aku memutuskan untuk menjatuhkan hatiku padamu, aku sudah tahu kepalaku akan berpikir lebih banyak. It’s okay. Ini lagi-lagi bukan soal jarak, atau soal janji-janji atau soal keberadaan. Ini soal dua kepala yang mempunyai isi benar-benar berbeda.

Pada satu titik, karena dikuasai perasaan emosi, aku sering lupa bahwa kita benar-benar berbeda. Ada hal-hal dalam kepala yang bahkan tak bisa kita kompromikan untuk jadi satu dan kita sudah sepakat bahwa dalam hubungan satu tambah satu tak selamanya harus jadi satu tapi tetap saja dua. Jangan lelah untuk mengingatkan kalau aku lupa. Yang bisa kita lakukan selanjutnya hanyalah sama-sama belajar untuk bertumbuh menjadi pribadi yang bisa saling memahami.

Aku, juga kamu, mungkin akan menjadi kaget dengan begitu banyak hal yang pelan-pelan kita buka dan akan kita buka lagi terlebih sisi-sisi buruk yang mulai terkuak. Kaget tidaklah mengapa asal jangan panik lalu cepat-cepat memilih pergi. Bukankah pemahaman itu butuh proses?

Kita adalah sebuah kemungkinan sayang, yang tak tahu akan berakhir seperti apa. Aku tidak bisa berjanji apa-apa hingga kini selain jika hari ini kita masih ada, aku akan menggengam jemarimu dan hidup sepenuh-penuhnya. Kita tak akan tahu kemana takdir akan membawa kita. Tapi jangan pernah lupa kita adalah satu-satunya penentu takdir kita sendiri.

Maka marilah kita saling menopang meski jarak memisahkan raga ribuan kilometer dan menguatkan hati untuk berani memperjuangkan setiap kemungkinan.

Love,

Totally Yours!

2 thoughts on “Sebuah Kemungkinan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s