Mengenang Kita

Love, kau tahu malam ini purnama merajai langit Ambon. Lalu kenangan tentangmu menguar di udara, menjelma pisau menusuk dada.
Surat ini aku tulis di sibu-sibu tengadah pada meja yang pernah kita tempati bersama pada suatu senja di januari. Meja itu nampak sepi dan sendiri, tanpa kita yang asyik bercerita sambil sesekali mengerat jemari.
Ah, aku rindu bagaimana kau bercerita tentang perang Huamual dengan matamu yang berapi-api, lalu sesekali mengerutkan keningmu karena aku banyak sekali bertanya.
Kau tahu, saat itu aku gugup melukis di hadapanmu. Polesan kuasku tak bisa rata seperti biasanya. Mungkin karena tatapan teduhmu, mungkin karena senyummu, mungkin juga karena waktu itu kau akan segera kembali ke kota yang jauhnya ribuan kilometer tu. Entahlah. Yang pasti aku merindukan kita. Sungguh.
Jadi kapan kau akan pulang ke Ambon, menjemputku di kantor lantasberjalan menyusuri kota lalu menikmati lagi kopi rarobang di sibu-sibu? Mungkin dengan cerita lain, dan sebuah lukisan yang lain.

Well, love, pulanglah, sekali lagi waktu, biar purnama di langit Ambon akan sempurna.

Biar kita benar-benar merdeka.

Yours

2 thoughts on “Mengenang Kita

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s