Untuk Sebuah Mengapa

Tuan,
Pantaskah kita untuk bertanya “mengapa” untuk semua hal yang sudah terjadi hingga kini?
Pada sekali waktu kita pernah khilaf, mencoba menorobos batas-batas yang mengerikan itu. Kadang aku berpikir itu adalah kesia-siaan paling mengerikan yang pernah aku pilih.  Tapi tak ada penyesalan. Sungguh. 
Hingga pada suatu titik, aku menyadari bahwa didalam dunia ini tak semua hal bisa disatukan, seperti aku dan kamu, dua kepala yang mungkin tak bisa melebur jadi satu. Ketika menjelma satu, kita akan saling menerangi hingga silau dan menyakiti begitu banyak orang.
Jadi biarlah kita begini saja, saling menatap dari jauh, membaca tulisan dan meresapinya dalam-dalam lantas memeluk bayang untuk membunuh rindu.
Jangan lagi pernah berpikir untuk datang dan menawarkan kembali kemungkinan untuk mengurai mengapa, karena jika itu sampai terjadi lagi, aku dalam kesengsaraanku yang paling menyakitkan sekalipun, akan menjelma gelap supaya terangmu yang mengisiku selamanya.

M

4 thoughts on “Untuk Sebuah Mengapa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s