Untitled II

Tuan,
Bagaimana pagimu?
Pagi ini aku lewati dengan khawatir yang membuncah, karena membaca pesan singkatmu. Bukan, bukan karena isinya. Tapi karena aku tahu, kau mungkin tak memejamkan mata hingga matahari menggeser gelap.

Ini bukan rindu. Denganmu, aku selalu bisa mendefenisi keadaan seemosional apapapun dengan logika.
Aku benar-benar khawatir. Sudah. Begitu saja.

Aku khawatir maut tiba-tiba saja datang dan melenyapkanmu.
Meskipun aku tahu mencoba menyembunyikanmu dari maut adalah tindakan bodoh.
Perasaan ini ada dengan kadar kekhawatiraan lebih tinggi dibanding takut perasaanmu padaku terhapus suatu ketika nanti. Bukankah kita sudah sepakat tiada yang bisa membendung perasaan?
Aku telah menyesap bergelas-gelas kopi tapi tetap saja cemas tak kunjung habis.

Aku tahu, kau maupun aku, bukanlah manusia yang suka diatur-atur isi kepalanya soal jam tidur, jam makan dan hal-hal tetek bengek mememuakan itu. Jadi aku dalam kecemasanku, akhirnya membalas pesan singkatmu dengan mengabaikan ledakan-ledakan dalam dada.

Meskipun bahasa telah menyimpan kita dan seluruh kisah dengan baik, namun perasaan takut kehilangan tak bisa aku singkirkan dengan mudah. Kau mengerti bukan?

Tapi tenang saja, aku tak akan menjadi cerewet. Besok aku akan mendoakan saja keselamatanmu. Aku baru saja mencoba tadi, lalu ajaibnya kepalaku benar-benar tenang.

Baik-baik ya🙂

One thought on “Untitled II

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s