Epistolize

Dear Daniel,

Aku menulis surat ini bukan sebagai seorang umat yang ingin mencurahkan isi hatinya. Aku menulis ini sebagai seorang wanita yang mengenalmu lebih dari separuh umurku. Jangan berprasangka apapun, lalu bacalah surat ini dengan kepala kosong seolah-olah kita baru saling mengenal kemarin.

Aku tak ingat lagi kapan tepatnya terakhir kali kita berbicara, empat, lima, ah mungkin sudah bertahun-tahun lamanya tidak. Kudengar dari ibuku, kau datang beberapa kali kerumah dan menanyakan keberadaan dan kabarku. Ah, Daniel, mendengarnya saja sepenuh tubuhku gemetar. Tapi untunglah tak sekalipun kau mencoba menghubungiku. Mungkin itu yang namanya menepati janji ya. Terimakasih untuk itu.

Lantas diawal minggu lalu, ibu memberitahu lewat telepon kau akan segera ditahbiskan menjadi pastor. Dalam dadaku muncul gelombang yang begitu dashyat berkecamuk persis sama seperti saat kau bilang sudah memutuskan akan masuk seminari. Tapi kali ini aku sudah tak lagi menyalahkan Tuhan dengan pernyataan-pernyataan bodoh. HAHA. Kalau ingat-ingat lagi waktu lalu, aku semakin malu pada Tuhan. Masakan aku marah ketika ciptaanNya memutuskan untuk mengabdi padanya daripada menjalani hidup denganku?

Tenang Daniel, aku dan Tuhan sudah berkawan karib. Kami sering membicarakan banyak hal saat bangun pagi dan sebelum tidur. Kadang kami juga membicarakanmu.

Di Sabtu lalu akhirnya dengan segenap keberanian, aku pulang kembali ke kota ini. Kenangan menyambutku bagai pisau yang merebok seluruh isi perutku. Lalu aku, entah dengan keberanian dari mana pergi ke katedral dan menyaksikan upacara penahbisanmu. Kau nampak bersinar dengan jubah putih dan mata yang bersemangat.

Tidak kau tak mungkin melihatku, aku duduk di posisi paling tersembunyi. Aku sempat juga melihat ibumu. Dia berkaca-kaca saat berjalan keluar seusai acara. Ah, Daniel ini momen-momen mengharukan bagi semua orang. Pun aku dan sungai deras yang mengalir dalam dadaku.

Daniel, pagi tadi aku dan Tuhan berdiskusi tentang cinta. Apakah cinta itu Daniel?

Buat Tuhan, cinta itu ketika seseorang bisa memberikan nyawanya bagi semua mahkluk tanpa mempertimbangkan dirinya sendiri.

Buatku cinta itu seperti racun. Ketika mencintai setiap orang selalu punya dua pilihan, membagi racunnya dengan orang lain biar tak terlalu menyakitkan meskipun bisa berpotensi menyakiti banyak orang atau menyimpan racun untuk dirinya sendiri, yang bisa mematikan dalam sekejap.
Dan aku telah memilih menyimpan racunku sendiri Daniel, saat aku berjalan membelakangimu dan pergi jauh dari rumah.  Aku masih baik-baik saja hingga hari ini. Diriku masih mampu mengelola racun dalam tubuhku.

Jangan pernah mencariku Daniel. Kalau beruntung atau mungkin sial, kita pasti akan bertemu sekali lagi waktu dan bercerita sebagai umat dan gembala. Maaf, aku belum punya cukup keberanian untuk menjumpaimu sekarang.

Selamat melayari ombakmu yang baru, tangkaplah sebanyak mungkin yang terhilang. Aku akan sering-sering memperbincangkanmu dengan Tuhan.

Salam,
Maria

3 thoughts on “Epistolize

  1. Yah, jadi teringat malam itu, ketika dy bilang tentang seminari… ah iya juga yah, hati ini marah😀 tapi mungkin endingnya bisa sama ato juga enggak… buktinya seminari itu hanya pembicaraan saat itu… “people may change”🙂
    dan semuanya sudah baik baik saja sekarang #mungkin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s