Hujan

Kepada hujan,
Entah kenapa aku ingin menulis surat untukmu sore ini.
Mungkin karena aku teringat seorang lelaki keras kepala yang begitu membencimu.
Katanya dia membencimu sama seperti dia membenci tomat.
Padahal kau tahu hujan, aku begitu menyukaimu dan juga tomat
Kami begitu berbeda bukan?
Akhir-akhir ini kami saling berjalan menjauhi.
Aku benar-benar marah pada dirinya, keadaan ini begitu juga pada diriku sendiri.
Tapi pada satu titik, aku masih berdiri dan mengharapkan dia datang dan meraihku.
Ah hujan, sesekali aku ingin sekali menjelmamu. Karena dengan itu, aku bisa bebas menjumpainya sesekali, menyentuh kepalanya, dan kalau beruntung juga mata indahnya.
Tapi iu mustahil bukan?
Jadi hujan, semoga sebentar lagi engkau datang menyapa bumi, biar resah dadaku bisa sedikit lenyap.

Dari yang mencintaimu,
M

One thought on “Hujan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s