Cerita Tentang Nelayan

Peter,
Sore ini aku teringat akan cerita tentang seorang nelayan yang tinggal dihadapan rumahku.
Ia sering pergi melaut di sore hari, meninggalkan istri dan anak-anaknya. 
Ia selalu meninggalkan pantai dengan penuh semangat, tenggelam dalam merahnya senja dengan penuh harapan dan berjanji akan membawa pulang ikan yang banyak untuk istri dan anak-anaknya.
Tapi keesokan harinya ia tak kunjung pulang.
Semua orang cemas dan berdoa.
Besoknya pun masih tetap tak ada berita.
Orang-orang lelaki bergegas mencari, tapi nihil.
Perempuan-perempuan meratap tapi air mata mereka dikalahkan ombak.
Istri dan anak-anaknya melarung doa setiap pagi di kaki langit.
Lalu sebulan kemudian, tersiar kabar ; nelayan itu bertemu putri duyung cantik di ujung selat, mereka saling jatuh cinta dan mereka memilih hidup bersama di kerajaan laut.
Meski nelayan itu tahu, harga yang harus mereka bayar sangat mahal : kematian.

Ah,
Mungkin nanti, entah dimana dan kapan kita akan bertemu orang-orang yang akan diam-diam mencuri napas.
Bertemu orang yang mungkin tak kita lihat wajahnya sehari saja, seperti mau mati.
Mungkin kau dan aku kemudian akan melupa tentang janji yang kita buat saat purnama datang di akhir Desember.
Mungkin kau dan aku, akan lebih berani menerjang apapun lebih dari saat kita menjadi kita.
Dan lalu kemungkinan-kemungkinan lain yang tak ingin dibayangkan sepasang kekasih yang telah memasuki tahun ke empat masa kebersamaannya.

Orang selalu bilang cinta selalu butuh waktu lama untuk dipahami, dan cinta yang dewasa bukan lagi cinta-cinta penuh pesona, yang sekali menatap dan boom. Hal-hal instan jarang sekali berumur panjang.

Tapi mereka, orang-orang pandai itu lupa, cinta itu bukan soal defenisi, bukan juga soal seberapa lama kita bersama. Percaya atau tidak cinta selalu menembus begitu banyak hal, mau atau tidak mau.

Yang tersisa hanyalah pertanyaan, kamu berani atau tidak menembus batas-batas itu?

Aku tak bisa mengatakan, apa aku orang yang tepat untukmu atau tidak karena seiiring waktu semua hal selalu berubah, termasuk kau dan aku.
Aku tidak pernah takut Peter untuk ditinggalkan atau meninggalkan, karena kehilangan itu pasti suatu saat nanti.
Seperti nelayan yang selalu pergi untuk melaut, demikianlah kita para pecinta. Melangkah masuk dalam sebuah kemungkinan tak pasti.

Jadi apapun yang terjadi besok, siapapun yang akan kau temui besok, sampai saat ini aku tak peduli.
Kau tau hingga kini aku masih mencintaimu sepenuh dada.
Mencintaimu dengan segenap kemungkinan yang kau bawa besok hari.

Dari
*gadis kecilmu*

One thought on “Cerita Tentang Nelayan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s