Hujan dan Kemarau

*
Namanya Hujan. Aku bertemu dengannya pada malam dimana segala penyair melarungkan puisinya ke langit, pada suatu Desember yang basah.
Bola matanya yang bulat penuh, mengingatkanku pada bayangan bulan di lautan lepas.
Senyumnya menarik jiwa yang tersesat pulang kembali.
Ia perempuan berkepala paling bebas yang pernah aku temui.
Tindak tanduknya kadang seperti hujan yang datang tiba-tiba. Mengejutkan.
Ia pernah bilang, cinta itu membebaskan dan tak perlu satu komitmen untuk mengekangnya karena komitmen hanya milik orang-orang penakut, yang selalu merasa tak aman akan masa depan, yang merasa takut hidup tanpa cinta padahal cinta adalah diri mereka sendiri.
“Kamu takut menikah?” tanyaku padanya di suatu sore yang merah
Ia tertawa. Aku menatapnya lekat.
“Bukankah cinta itu membebaskan?,” Ujarnya.
Ia tersenyum lalu mengedipkan sebelah matanya. Aku bergeming
“Lalu mengapa ketika kita mencintai seseorang kita ingin mengaturnya?
Pernikahan? Haruskah kedua orang yang saling mencintai itu menikah?” lanjutnya

Sore yang semakin hening

“Apakah itu cinta? Ataukah hanya upaya pemenuhan ego dalam diri?  Kalau cinta dibumbui ego masih pantaskah dia disebut cinta?”
Aku terbahak. Ia tersenyum puas. Ia tahu telah memenangkan logikaku sepenuhnya.

Ia mengajariku melihat dunia dari sisi yang berbeda. Dunia diluar kebenaran hakiki yang normatif. Dan aku terpesona sungguh lalu aku jatuh berkali-kali kedalam isi kepalanya.
Namanya Hujan dan seperti hujan ia menyejukan kemarau panjang di dada.
Sampai pada suatu titik, aku menjadi takut karena semakin lama aku jatuh kepadanya, semakin kuat ingin untuk mengekangnya dalam komitmen. Semakin kuat keinginan mengaturnya dalam normatif yang selalu membawanya kembali padaku seorang.

Lantas, aku memilih pergi karena aku tahu komitmen akan membunuhnya perlahan. Karena isi kepalanya tak akan pernah bisa jadi sesempit kepala perempuan kebanyakan.
Aku pergi, pelan-pelan, dalam diam.
Toh, dia akan selalu baik-baik saja.
Aku lebih memilih membunuh diriku sendiri berkali-kali asal dia dan kebebasannya selalu hidup. Itu sudah lebih dari cukup.
Aku pergi dengan meyakini cinta memang membebaskan.
**
Namanya Kemarau. Aku bertemu dengannya saat para penyair riuh mengumandangkan puisi di suatu Desember yang basah. Lalu ia nampak bagai api dengan puisi-puisinya yang maha indah.
Aku terbakar kata-kata dan mimiknya.
Aku terpesona.
Ia lelaki berkepala paling keras yang pernah kutemui.
Namun keras kepala kadang membuatnya terlihat menggemaskan.
Lantas aku ingin menyimpannya dalam dada seutuhnya.

Ia mungkin paranormal. Aku tak pernah mengerti isi kepalanya.
Ia lelaki pertama yang bertanya padaku, “Kamu takut menikah?”
Aku tertawa. Ia menatapku lurus.
“Bukankah cinta itu membebaskan?,” Ujarku
Aku tersenyum. Ia bergeming
“Lalu mengapa ketika kita mencintai seseorang kita ingin mengaturnya?
Pernikahan? Haruskah kedua orang yang saling mencintai itu menikah?” cecarku

Sore yang mistis

“Apakah itu cinta? Ataukah hanya upaya pemenuhan ego dalam diri?  Kalau cinta dibumbui ego masih pantaskah dia disebut cinta?”
Ia terbahak. Aku memenangkan logikanya.

Ia selalu saja tahu apa yang aku butuhkan, bukan apa yang aku ingini.
Ia selalu bisa memeluk diwaktu yang tepat dan menahan diri untuk memeluk diwaktu yang tepat pula.
Apa dia malaikat?
Semakin aku dekat dengannya, semakin aku takut. Aku takut aku menjadi bergantung padanya.
Apa dia candu?
Namun aku menjadi lebih takut bila bangun di pagi hari dan tak mendengar kabarnya.

Pada satu titik, aku ingin sekali dikurung dengan semua kebodohan aturan normatif dunia ini asalkan aku bisa bersamanya.
Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku ingin hidup berkomitmen.
Aku ingin dia menikahiku.
Apakah ini yang namanya kegilaan remaja?

Sayangnya, ia berjalan menjauh. Entah apa penyebabnya.
Aku tak pandai menebak.
Aku lalu berlari menggapainya, tetapi ia lebih cepat berlari meninggalkanku.

Lalu aku ingat, bukankah cinta itu membebaskan?
Dan aku melepasnya pergi mengarungi ombak yang dipilihnya meski aku tahu, aku membunuh diriku berkali-kali saat menahan diri untuk tidak memperjuangkannya.

Namanya Kemarau dan ia telah meninggalkan kemarau panjang di dadaku semenjak dia perlahan-lahan pergi.

***
Nama mereka Hujan dan Kemarau. Mereka saling mencintai dengan caranya masing-masing.
Apakah orang-orang yang mencintai harus pergi dahulu untuk kembali saling menemukan?

Ya, kalau beruntung mungkin akan kembali saling menemukan

4 thoughts on “Hujan dan Kemarau

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s