Di Ujung Jalan

I

Setelah kita saling bercerita di suatu sore yang kuyup

Angin menjadi lambat dan gerimis terdengar seperti komposisi Bach

Lalu kau tawarkan sepotong harap yang benamkan riuh di dada

Bahwa anak-anak kita kelak tak melulu menggambar dua pucuk gunung dengan satu matahari ditengahnya dan sepetak sawah atau pohon beringin besar dengan ayunan kesepian

Rembulan dimatamu begitu purnama

Dan aku separuh telanjang dihadapanmu

Kau bisikan “aku tanpamu bukanlah aku”,

Begitu adanya asmara seperti sebotol anggur, aku mabuk dan lupa diri

“Menikahlah denganku” pintamu, dan telanjanglah aku

Dihadapan penghulu yang mata keranjang, kita terikat

Lalu jantungku, hatiku, sungguh begitu telanjang, benar-benar

Dan kau tersenyum penuh pesona

II

Sungguh bertahun-tahun lamanya baru aku paham

Bahwa mungkin telinga wanita terbuat dari bunga kapas

Yang gampang terbuai bujuk ketika angin datang mengunjungi

Pada akhirnya cinta adalah sebuah episode usang

Seperti aku mencintamu, kamu mencintainya dan dia mencintai yang itu

Mungkin terlalu tipis, sama seperti aku menaruh syak berlapis

Bila cinta dibengkokkan arahnya olehmu

Aku hanya bisa mengenang betapa panjang jalan yang kuambil untuk berarah padamu

Seharusnya kesetiaan yang mahal itu tak dikembalikan dalam kepahitan

Makin kesini, makin banyak seharusnya yang terbit

Kebencian dan harapan hanya dipisahkan selaput tipis

Berdesakan dengan rindu pada dirimu yang lalu hingga dada ingin pecah, menyatu dengan angin

Pada pagi hari setelah ku kunci diriku dari semua keinginan

Aku kembali yakin harga diri kadang harus tunduk atas nama rindu

III

Demi kaca cair yang senantiasa merupa wajah langit
Sesungguhnya asin laut adalah cinta yang paling sederhana
Seperti aku telah menjawab jika laut adalah cinta, seperti apakah dia
Oh, kesetiaan apa lagi yang hendak kau pinta dariku?
Di atas mezbah aku telah membakar cintaku yang mula-mula
Aku bermunajat, seperti Ibrahim yang tak kehilangan keyakinan,
Dan pada akhirnya hanya menelan ludah sebab Tuhan berhenti melukis mujizat
Dia bilang carilah kebenaran sebagaimana orang menemukkan cinta sebagai akar pemberontakan
Pada suatu sore yang biasa, aku tak bisa lagi melukis langit

Aku berhenti mencari kebenaran yang ada padamu dan segala pembenaran

Lalu memilih pergi menulis kenangan tentang kita di atas dedaunan gugur
Dan membiarkan mereka terbang bebas kemana saja mereka suka

Mungkin akan melekat pada rambut atau laut di entah berantah
Supaya diriku kembali kosong
Karena penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan

Kolaborasi dengan Rebellious

2 thoughts on “Di Ujung Jalan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s