Hadiah Ulang Tahun

Tak ada yang tahu, kapan cinta akan datang. Sebagian orang menilai terlalu cepat, sebagian lagi menyalahkan waktu kenapa membawa cinta terlambat. Aku selalu yakin, semua waktu adalah tepat karena sesungguhnya waktulah yang abadi dan manusia cuma bisa berprasangka.
Tak ada yang salah dengan waktu datangnya cinta. Cuma kita, ketika tak sejalan dengan ingin lalu mulai menyalahkan waktu dan keadaan serta mulai bertanya “Kenapa Sekarang Tuhan?”
Lalu aku bertemu dia, di suatu Maret yang sendu. Lelaki dengan pikiran yang begitu membakar dada membuatku tak lagi percaya bahwa waktulah yang abadi, Lantas aku mulai menyalahkan waktu dan bertanya setiap detik, “Ah, kenapa sekarang Tuhan?”

***
Kau bilang, kau membenciku saat pertama kali bertemu denganku. Kau tidak begitu suka perempuan yang begitu aktif, berjalan mondar-mandir ke sana-sini.
Tapi kau bilang, ada yang istimewa dari mataku yang tidak bisa kau gambarkan dengan pasti saat itu. Lantas waktu memberi kesempatan pada kita untuk bercakap-cakap lalu kau menjadi semakin terpesona padaku dan aku pun membiarkan dirimu terperangkap dalam kepalaku.

Kau bilang perempuan sepertiku tidak berusaha terlalu ekstra mendapat perhatian lelaki, seperti memakai baju ketat atau make up menonjol karena memang apa yang ada dalam diriku sudah lengkap. Pikiranku, sikap tak peduliku yang kadang kau keluhka dan mataku yang katamu selalu memberi madu dalam dada keringmu.
Aku tertawa. Rayuanmu sempurna dan tidak pasaran,

Seorang teman pernah memperingatkanku, hati-hati kalau berjalan denganmu, apalagi kamu itu suami orang. Lalu aku menjawab dengan bercanda, bukankah lebih menantang?
Aku tak pernah menyangka, akan jatuh hati pada seorang lelaki beristri, ayah beranak satu. Aku terperangkap dalam perkataanku sendiri.
Dan setiap hari kita lewati penuh rasa rindu yang membara, dengan rahasia-rahasia kecil. Aku cuma punya waktu denganmu ketika kita bersama, setelah pulang aku merasa kau seperti hilang di telan bumi. Tapi aku menunggu, karena aku tahu besok aku akan bertemu denganmu lagi. Kita akan berbicara tentang bunga-bunga yang bermekaran lalu mengenai pembunuhan karakter bangsa. Ah, aku suka sekali mendengarmu berteori.

***
“Boleh aku menciummu?”
Aku bergeming.
“Boleh?”
Lalu aku menaruh bibirku di pipimu dan kau mencium dahiku dan memelukku begitu erat. Kita berpelukan singkat dan aku berlalu. Aku bahagia. Bunga-bunga bermekaran dalam dadaku.
***
Kebahagian itu abstrak dan kadang semu. Setelah semalam begitu bahagia, pagi ini aku bertemu dengan anak kecil yang digendong ayahnya lalu ibunya datang menghampiri dan mencium mereka berdua.
Lantas aku membayangkan itu adalah kau dan keluarga kecilmu. Dan aku merasa begitu kotor dan pikiranku melayang-layang di samudera, mencari cara bagaimana membasuhnya.

***

Sehari sebelum ulang tahunmu, entah yang keberapa, kau mengajakku makan malam. Setelah kutimbang dengan berbagai kemungkinan, akhirnya aku datang juga.

Setibanya di tempat makan, kau tidak makan apa-apa, katanya hanya ingin menatapku makan. Dan aku menghabiskan sepiring tahu dengan lahap. Lalu mengeluarkan sebuah kotak kecil dari tasku.
“Ini kado ulang tahunmu”
“Masih ada besok sayang,”
“Aku ingin jadi orang pertama untuk sekali saja dalam hidupmu. Bukalah,”
Kau mengakat bahu tak acuh lantas membuka kotak persegi dariku. Dan kau melihat isinya lama, lalu menatapku heran.
“Cuma itu yang bisa kuberikan, Kau tahu cinta tak bisa selamanya egois, dan apakah bila egois masih pantas disebut cinta? Selamat ulang tahun untuk besok. Terimakasih karena sudah datang terlambat.Tolong, jangan pernah mencariku kembali” ujarku seraya memeluk tubuhnya dan berlalu.

Aku meninggalkan dia mematung, memegang sebuah kertas kecil bertuliskan “Perpisahan”.

Tak ada kado yang lebih baik dari sebuah perpisahan untuk kita.

***

Aku lebih memilih pergi, memilih membunuh diriku berkali-kali dengan meningalkanmu karena aku tak pernah mampu melihat binar mata seorang anak kecil yang pipi ayahnya kucium mesra dan dadanya pernah aku rebahkan kepala.
Bagaimana mungkin kau bisa merampas lelaki satu-satunya gadis kecil tak berdosa itu? Kalau egois apakah cinta masih pantas disebut cinta?
Aku lebih memilih pergi selama masih awal, karena cinta yang sudah berakar dalam kadang meninggalkan torehan yang akan terbawa seumur hidup dan tidak bisa lagi dihilangkan.

PS : Selamat ulang tahun, kadang tak ada jalan keluar yang lebih baik selain perpisahan

One thought on “Hadiah Ulang Tahun

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s