In Memoriam

Kamis lalu saya baru saja tiba di Jakarta untuk urusan pekerjaan. Sembari sedang beristirahat, teman saya Sally, menelepon dan berujar, “Cha, Ince sudah gak ada!”
“Hah? Siapa? Jangan main-main”
Sally lalu menangis tersedu dan meminta  sya untuk membuka timeline facebook.
Lantas saya membuka facebook dan melihat lini masa penuh dengan berita belasungkawa dan foto Ince yang terbujur kaku menggunakan toha hitam dan stola berwarna merah.
Saya terdiam dan mencoba mencerna sore  hari
Saya bahkan tak bisa menangis karena kenyataan terasa begitu pahit untuk ditangisi.
Malamnya seusai bekerja saya segera terlelap.
Saya terbangun pagi sekali dan kembali mengecek facebook.
Tak ada yang berubah.
Ince, tetap masih terbujur kaku disana dan saya masih saja tidak percaya.
Saya harap kemarin adalah mimpi dan hari ini ketika membuka linimasa ada foto selfie terbaru ince dan Agatha.
Tapi tidak semua mimpi harus jadi nyata.

***
Saya mengenal Marince Kemit 9 tahun lalu saat menempati asrama mahasiwa UKSW. Dia menempati kamar dengan Un dan letak kamar mereka berseberangan dengan kamar saya.
Dia sering berteriak pagi-pagi di kamar, meminjam sapu di kamar saya.
Atau sering membuka pintu kamar tiba-tiba. Dasar ;))
Kacamata Ince begitu tebal tapi jika kalian perhatikan dalam-dalam bola matanya, tak ada hal lain yag ditawarkan selain keteduhan.
Bahunya yang kecil itu, salah satu tempat ternyaman untuk saya sandarkan kepala.
Senyumnya, kekonyolannya, cara dia tertawa masih terekam jelas hingga pagi ini.

Sekali waktu saya pernah sakit karena menghirup banyak eter saat praktikum. Dia bolak-balik masuk kamar meminta saya minum banyak air hangat biar demam segera reda.

Tak ada yang lebih beruntung, bila Tuhan mengirimimu malaikatNya. Dan saya beruntung, Tuhan mengirimi saya seorang Ince.

***
Tahun lalu, dalam event #30harimenulissuratcinta, saya menulis surat untuk anak perempuannya Agatha.
Dalam surat tersebut, saya bilang demikian:
” Agatha, mungkin beberapa tahun kedepan ibumu akan membacakan dongeng pengantar tidur untukmu. Dan kau akan terpesona dengan akhirnya. Lalu ketika kau beranjak remaja, orang-orang akan bilang hidup tak selalu seindah dongeng. Tapi tetaplah percaya bahwa kebaikan selalu menang dan keajaiban itu masih ada.”
Juga saya meminta agatha memeluk ibunhaketika dia menangis.

Ah… hal-hal baik yang kau harapkan bahkan kadang harus tunduk bila semesta tak berkenan.
Agatha, memang benar hidup tak seindah yang kita harapakn anakku. Aku bahkan telah minum 3 cangkir kopi hitam untuk membuat diriku agar mabuk dan menyadari kita tak berkuasa menentukan jalan hidup. Semua orang hanya berjarak sekian sentimeter dari kematian.

***

Hidup penuh kejutan dan bahkan beberapa kejutan yang hadir membuat kita semua tak siap untuk menangulanginya.
Kehilangan? Siapa yang pernah benar-benar siap untuk itu??
Pagi di Soekarno Hatta dingin sekali mirip dingin di Salatiga dan saya kenangan tentang Ince bermekaran indah dalam ingatan.

Selamat Jalan inche Chan. Selamat jalan.
Tulisan ini saya buat setelah mengumpulkan energi selama beberapa hari ini untuk meyakinkan bahwa ini bukan mimpi.

I love you Ince.

8 thoughts on “In Memoriam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s