Dentuman Pikiran Dalam Simbiosa Alina

 

21457131

dok. goodreads.com

Jangan pernah menilai buku dari covernya. Setidaknya ini yang saya yakini ketika selesai membaca simbiosa Alina, sebuah karya kolaborasi antara dua penulis muda, Priangi Abdi dan Sungging Raga. Saya mendapatkan buku ini sudah sekitar setahun lalu sebagai hadiah dalam event menulis #puisihore3. Ketika mendapatkannya, saya tidak langsung membacanya karena sungguh, saya langsung tidak tertarik membuka halaman per halaman karena cover bukunya yang terlalu kental kesan femin. Dan tentu saja, buku ini berhasil menjadi penghuni rak buku sekian lama.

Lalu mungkin pada saat itu, saya sedang beruntung. Karena tak ada bacaan lagi dirumah saya lalu memutuskan untuk membaca Simbiosa Alina. And, Guess What? It was surprised me. Saya bahkan tidak sabar untuk membuka halaman berikutnya dan berikutnya dan terpaksa menutup buku karena petualangan menyenangkan saya berakhir sudah.

Simbiosa Alina terdiri dari 20 cerpen yang diporsikan rata ke dua orang penulis yang karakter penulisannya amat berbeda. Membaca tulisan Sungging, artinya kita harus mempersiapkan diri masuk ke dalam dunia baru, dunia yang adalah perpaduan dunia nyata dan imajinasi tingkat tinggi dan terkadang memaksa otak untuk bekerja ekstra memahaminya. Cerpen Sungging, kadang tak terlalu kaya dialog. Kebanyakan berupa untaian naratif panjang yang menjelaskan percakapan.

Sementara itu, tulisan Priangi Abdi lebih manis, puitik, dan nyata walau kebanyakan puntiran di akhir cerita bikin pengen nusuk kepala kuntilanak.
Saat membuka buku ini, pembaca akan disambut dengan cerpen “Simbiosa”, yang menceritakan bagaimana patah hati karena ditinggal pergi sang kekasih, bisa menimbulkan derita yang begitu mendalam di hati Dulkarip.
Kemudian ada “Bangku, Anjing dan Dua Anak Kecil” yang bikin pembaca mikir keras untuk membedakan mana potongan kejadian nyata, mana kejadian yang adalah khayalan.
Cerita favorit saya, senja di taman Ewood dan Sebatang pohon di Loftus Road yang bercerita tentang pengorbanan cinta dan kerelaan menunggu. Sungging buat saya, sungguh cerdas memainkan perasaan para pembaca.
Bab cerita Sungging, ditutup dengan cerita mengenai hantu terbang The Flying Britishman yang mencari-cari cinta sejatinya, Cartesia.
Priangdi membuka bagian ceritannya dengan “Malimbu” tetang kisah cinta dua insan berbeda latar belakang yang sayangnya berakhir tragis.
Lalu ada “Teka-Teki Kecil”, yang adalah salah satu cerita favorit saya. Ini bercerita tentang kisah Afrizal yang rasa cintanya mulai tumbuh kepada Nyimas lantaran merasa kalah tidak bisa menjawab besar teka-teki sederhana perempuan itu.
Siapapun yang membaca “bait-bait hujan” pasti gemas sendiri. Bagaimana tidak, cerita yang puitis dan manis namun diberikan puntiran akhir yang bikin pengen mandi air es saja. Huh!

Well, overall, buku ini merarik dan bikin nagih. Secara keseluruhan, saya lebih suka membaca cerpen-cerpen Sungging Raga, karena memang gaya bertuturnya tidak biasa.
Buku ini, walaupun sudah selesai dibaca sekali, dibaca berulang-ulang nanti tak akan membosankan. Recommended! 3,5 dari 5 bintang untuk buku ini.

quote favorit
“Kamu seperti hujan yang datang menghapus bau-bau kematian di hatiku yang telah gersang oleh kemarau,” – Bait-bait Hujan.

“Kakek itu terdiam. Ia seperti mengalami kekalahan dashyat yang menyenangkan. Memang selalu seperti itu, cinta membuatnya kalah selama seratus dua puluh tahun,” – Slania

3 thoughts on “Dentuman Pikiran Dalam Simbiosa Alina

  1. Sungguh, awal pertama membaca kalimat pembuka, kupikir covernya yang bagus – isinya tidak. Ternyata terbalik!😀 Kumcer ini sudah kuincar sejak lama, tapi entah mengapa terlupa. Dan review ini mengingatkannya kembali. Thanks, Kak Masya.😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s