Persidangan Sinode Ke-37 : sebuah Catatan

Melelahkan sekaligus menakjubkan. Itulah yang ada dalam pikiran ketika orang bercerita mengenai pelaksanaan sidang sinode Gereja Protestan Maluku (GPM) ke-37. Saya selama dua minggu berada disana, memperhatikan dinamika para pelayan Tuhan bergumul dengan berbagai konsep gerejawi lalu menuliskannya agar dibaca khalayak ramai.
Saya belum pernah berada dan terlibat secara langsung dalam proses seperti demikian dan ketika saya ditugaskan kantor untuk berada disana, oh, saya sudah lelah duluan. Saya membayangkan waktu saya yang terbuang banyak dan deadline gambar-gambar yang nanti tidak bisa selesai pada waktunya. Saya selalu berpikir, untuk apa orang terlibat dalam suatu perdebatan yang panjang and well, ini gereja. Kamu tidak harus selalu berdebat sengit dengan suara menggelegar pertanyakan kata per kata seperti orang-orang yang melakukan amandemen undang-undang.
Lalu waktu berjalan dan sesuatu yang menakjubkan terjadi. Saya belajar bahwa perdebatan itu penting karena perwakilan 32 klasis yang ada di wilayah pelayanan GPM membawa kebutuhan jemaatnya masing-masing dengan latar belakang yang sangat beragam.
Dan saya takjub, lewat suatu perdebatan begitu alot orang-orang pada akhirnya setuju dan mengalahkan dirinya sendiri demi diambil sebuah keputusan.
Perdebatan itu penting untuk mendudukan kesamaan presepsi dan misi dan sekaligus mengingatkan para pelayan bahwa mereka tidak lagi berjalan menuju kepentingan masing-masing namun harus bersatu padu bersama membawa visi gereja. Perdebatan itu penting agar selalu tertanam bahwa bagaimana gereja tetap menjadi gereja ditengah perubahan zaman yang tak bisa dikekang.
Dan orang sering menjustifikasi suatu hal karena menurut ‘kata orang’ atau sesuatu yang hanyalah dikulit saja tanpa terlibat didalam. Kalau ingin berpendapat setidaknya mari kita terlibat didalam, dan mengenal prosesnya lantas memberi komentar yang membangun agar gereja ini bisa bertumbuh ke arah yang lebih baik

Perihal Ketua Sinode
Yang paling ditunggu dalam pelaksanaan sidang Sinode adalah siapa figur yang akan memimpin GPM hingga 2020. Semua orang ramai, semua orang sibuk membicarakannya termasuk saya yang hampir sebulan menuliskannya.
Majelis pekerja harian (MPH) Sinode GPM dan seluruh jajarannya memang penting tetapi bukan segalanya. Artinya sidang sinode bukan hanya ditujukkan untuk ada sekian banyak hal yang lebih penting dari itu. Dalam sidang  sinode ke-37 ini, begitu banyak hal penting yang berhasil digumuli.
Selama delapan dekade GPM akhirnya lewat persidangan  sinode tahun  ini, GPM berhasil mengeluarkan sebuah ajaran gereja yang akan menjadi pedoman bagi pelayan dan umat untuk berkarya di GPM . Selama delapan dekade, GPM ahkirnya merekomendasikan agar ada sebuah sistem  yang bisa mendata dan mengelola aset-aset GPM secara lebih baik dan terstruktur, menata lagi pendidikan dibawah yayasan GPM, serta pengelolaan dana pensiun yang lebih baik bagi pegawai GPM.
Dan  hari ini jajaran MPH dilantik bersama dengan majelis petimbangannya. Sebuah kuk kini terdapat di pundak masing-masing hinga 2020 nanti para hamba Tuhan ini bisa membawa bahtera yang dinahkodai Yesus ini menghadapi kerahasiaan  dan kejutan setiap harinya.
Bukan perkara mudah memimpin ribuan umat yang punya isi kepala beraneka ragam. Bukan mudah juga menjadi pemimpin yang mau mendengarkan, menurunkan sedikit egonya lalu membiarkan pikirannya mengalami asimilasi dari saran-saran orang lain. Bahkan tak gampang menjadi pemimpin yang tidak mudah marah dan meredam kata-katanya menjadi menyejukkan.
Dalam suatu interview dengan Rektor UKIM Ambon, Pendeta Neles Aliyona, ketika saya menanyakannya bagaimana bila ia dicalonkan menjadi ketua sinode, beliau berujar”Dalam mengambil keputusan, saya membiarkan diri saya diam sejenak dan membiarkan Roh Kudus berkarya dalam senyap. Jadi apa yang nanti saya putuskan bukan lagi berasal murni dari diri saya melainkan telah terjadi karya Tuhan disana”.
Ya, mungkin MPH bahkan umat harus selalu mengingat benar bahwa GPM hadir di dunia bukan untuk kebanggan dirinya sendri atau kelompok tapi semata untuk menyaksikan bahwa Yesus yang mati di Kayu salin karena dosa-dosa manusia telah bangkit dan turut berkarya dalam hidup setiap umat yang percaya padanNya.
Dan kita selaku alat di tanganNya, harus memberi diri, memberi ruang dan membiarkan Roh Kudus berkarya dalam setiap pengambilan keputusan.
Memang tak mudah mengurangi ego, tapi tak ada yang tak bisa dilakukan jikalau ada Anugerah yang Tuhan anugerahkan untuk memampumakan. Bahwa memang tak pernah ada yang sempurna, namun Tuhan yang Maha Sempurna itu ada dan berkarya lewat ketidaksempurnaan manusia agar kemulianNya selalu terpancar.
Selamat melayani, mencintai, berbagi cinta, berbagi harapan dan belajar, pak Ates, pak Ely dan seluruh jajaran. Doa umat dari 32 klasis dan dimanapun saja berada akan mengiringi kalian. Percayalah.  Tetaplah teguh ,bertekun  dan jangan goyah.  Selamat menikmati kejutan hidup di dunia yang semakin tak menentu ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s