P untuk Puisi 

Beberapa waktu silam saya pernah memposting sebait puisi di akun Facebook.  Lalu ada seorang teman kuliah saya yang berkomentar begini: 

“Kamu salah masuk jurusan harusnya dulu kuliah sastra”  

Disitu saya merasa sedih.  

Puisi dalam pandangan beberapa orang menjadi sungguh eksklusif jadi hanya boleh ditulis oleh mereka yang kuliah di jurusan Sastra atau Bahasa Indonesia.

Atau yang lebih menyedihkan puisi hanya dianggap curhat mereka yang sedang kasmaran atau patah hati. 

Puisi sungguh lebih luas dari dangkalnya rasa keingintahuan kita. 

Tengok saja Taufik Ismail penyair Indonesia dengan segudang prestasi itu, adalah seorang dokter hewan lulusan IPB. Orang dibalik lirik lagu-lagu Bimbo ini juga berhasil meraih prestasi di kancah internasional.

Kemudian Pablo Neruda, seorang penyair kelahiran Chili yang puisi cintanya bisa bikin kamu mimisan.  Ia adalah seorang diplomat yang bahkan tak menuntaskan kuliahnya untuk menjadi guru bahasa Perancis.  

Atau penyair muda Indonesia seperti Dea Anugerah,  Mario Lawi dan Bernard Batubara yang bukan juga lulusan jurusan sastra tapi begitu lihai meramu puisi. 

Disini Puisi menembus batas -batas eksklusivitas. Siapapun yang rindu berkarya bisa saja menulis puisi.  Puisi tak hanya milik golongan tertentu. Seorang politikus atau tukang ojek bisa sama – sama mencipta puisi berdasar pengalaman batin sendiri atau orang lain yang mereka temui. 

Saya terkadang sedih juga ada yang mengeksklusifkan puisi karena mereka saja yang bisa dan yang lain tidak. 

Menulis puisi berarti galau? Ya galau akan banyak hal dan bukan melulu soal cinta,  patah hati dan embel embelnya.  

Kalau anda adalah pembaca karya ‘Widji Thukul’ anda akan paham benar bahwa puisi adalah bagian dari pemberontakan dan kritik kepada pemerintahan orde baru. Atau karya Goenawan Mohamad  dalam puisi Asmaradana yang memberi kita sedikit pengetahuan sejarah mengenai kisah dalam Majapahit.

Puisi memang ditulis oleh kaum yang galau. Galau terhadap kondisi negara ini, peperangan,  keterlupaan akan sejarah, politik kotor, dan cinta yang mungkin hanya pencitraan. 

Puisi bahkan mengajak penikmatnya untuk galau massal, merasa senasib sepenanggungan dengan mereka yang dilanda bencana alam, korban peperangan dan ketidak adilan, kekerasan seksual dan penindasan serta merenung akan hidup yang kian sulit.  

Puisi kadang sarat makna dan cerita sehingga perlu berkontemplasi. Tetapi kadang pui5 tak butuh paksaan untuk dimaknai dan hanya perlu dinikmati.  

Puisi adalah paradoks.  Sejatinya ia membebaskan dan membuat kita merasakan pengalaman batin yang beragam.  Namun puisi sekaligus juga akan membuat kita terikat dan tenggelam, candu buat membaca dan menulis puisi lagi.  

Bagi saya puisi adalah oase ditengah dunia yang semakin memuakan ini.  Dan kita kadang tak perlu pusing dengan pendapat orang, suka pada puisi ya suka saja.  Tak perlu takut di tertawai.  

Saya ingin menutup tulisan ini dengan sebuah puisi tanpa judul.  

Kadang kita malu malu membaca puisi 

Sebab rangkai kata bagai pisau 

Menelanjangi tulang belulang 

Atau seumpama gula gula 

Bikin ngeri sendiri 

Soahuku, 8 Januari 2016

3 thoughts on “P untuk Puisi 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s