Belajar dari Negeri Malam: Sebuah Review 

Judul Buku : Sebilah Luka dari Negeri Malam

Penulis : Roymon Lemosol

Halaman ; vxiv+ 46 halaman

Penerbit : akar hujan press

ISBN : 978-602072063

Tahun Terbit : Februari 2015

 

 

 

“Sebilah Luka dari Negeri Malam”. Roymon Lemosol sang penulis dalam pengataranya mengaku menulis puisi lantaran begitu gelisah terhadap situasi di sekeliling .

Tetapi bukan berarti dalam buku ini melulu menyajikan luka, pembaca tentu masih disuguhi banyak keindahan mengenai Maluku dan hamparan indah panoramanya juga tersimpan dalam buku setebal 46 halaman ini.

Saya mendapatkan buku ini Februari 2015 silam, bahkan ada tandatangan penulis karena saat itu saya sempat hadir dan membacakan puisi di tempat beliau mengajar, SMAN 4 Ambon.

Roymon membuka buku ini dengan puisi berjudul ‘Lagu Pilih Cengkeh’ dimana menggambarkan kerinduannya terhadap prosesi panen cengkeh.

Dulu, cengkeh adalah tanaman primadona dan bahkan membawa bangsa asing melakukan ekspedisi ke Maluku. Saat musim panen, warga akan berduyun-duyun ke kebun, memetik cengkeh.

Lalu dalam bait terakhir puisi tersebut, Roymon menutupnya dengan realitas bahwa kini cengkih sudah mulai dilupakan, masyarakat enggan menanam cengkih sebab harganya mulai merosot.

 

Lama Sekali

Sejak angin gunung tak mau lagi menyebar wangi

Bunga cengkih

Pada kumbang yang banyak mereguk laba

Dari jatuhnya harga

 

Puisi Roymon disini banyak menyajikan hal-hal humanis dari realitas kehidupan masyarakat kini. Misalnya dalam puisi ‘Kita adalah hewan’ dan ‘Gelap’ dimana mengisahkan kehidupan manusia yang kadang sesat namun karena sudah biasa dilakukan jadi dianggap benar.

Sebilah Luka dari negeri Malam juga sedikit menyibak tabir bahwa ada hubungan antara Roymon dan keluarga serta murid-muridnya yang terjalin kuat diantara mereka. Tengok saja puisi “Ibu” dan ‘Aku dan Muridku’.

Yang menjadi puisi favorit saya adalah “Luka dari Negeri Malam” yang menjadi puisi penutup yang mengunci buku ini. Puisi ini menggambarkan bagaimana luku hati rakyat yang belum juga mendapatkan pemimpin ideal dari pemilu ke pemilu.

Dari segi tampilan buku, desain sampul cukup lumayan dimana menampakan tiga ruas tangan yang muncul dan memberi kesan sedang dipasung atau terpenjara.  

Membaca seluruh puisi dalam buku ini juga mengajak kita larut dalam pengalaman batin Roymon selama kurang lebih 17 tahun dimana puisi paling tua ditulis pada 1998 dan paling muda pada 2015. Puisi-puisi yang cukup dewasa dan mengigit. Apalagi Roymon yang kesehariannya berkutat dengan Bahasa dan sastra.

Sebagai penyair yang sudah berkarya hampir dua dekade bagi saya karya-karya Roymon adalah sebuah oase. Ia menegaskan orang Maluku tidak hanya bisa menulis soal cinta melulu, yang gombal dan mendayu-dayu seperti yang ada dalam lirik lagu pop asal Maluku belakangan ini.

Hadirnya buku ini saya harap juga merangsang semua penyair yang selama ini hanya berkutat dengan postingan ke media sosial agar mampu membukukan karya-karyanya. Sebab buku abadi dan timeline facebook bisa ditelan jaman.

Tentu buku selanjutnya sangat dinanti.  

Doc. Pribadi

 

Ambon, 11 Januari 2017

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s