Aside

Sejumlah Puisi Lama

Pulang
Sayang,
Apa yang sebenarnya kita harapkan dari barisan tebu di pekarangan rumah
Atau banggakan dari bongkah sawit yang mulai meninggi mengalahkan langit  dan gedung-gedung mentereng di bibir pantai
Mereka hanya pendatang baru yang  makin giat menimpa semua mimpi-mimpi kita
Tentang anak-anak yang nantinya akan kita besarkan sebagai nelayan
Pun menghalangi padangku dari bukit tempat kita menanam Angsana sewaktu kecil
Yang selalu saja bisa meredakan dadaku dari lelah

Kau lihat  langit dimalam hari semakin kosong saja
Awan tak lagi malu-malu menjadi raja
Entah dimana semua bintang menyembunyikan dirinya kini
Dan semua  perkara ini  membuatku semakin gemetar, ingin cepat-cepat mati saja

Maka selama hari ini masih siang
Izinkanlah aku ziarah ke masa dimana  bisa menyusu di dada Ina sampai puas lalu menyanyikan satu lagu untuk  Ama yang sedang memangkur sagu
Aku akan pergi juga mengunjungi bukit hijau dimana Angsana kita akan tumbuh membelah langit dan bermain lautan pasir di bibir pantai hingga lelah
Aku selalu ingin pulang menyentuh tanah yang masih telanjang
Biar jiwa yang kian ranggas mekar kembali

Masohi, 2015

Biarkan Aku
Sesekali aku ingin jadi udara yang kau hirup
Atau menjelma darah dalam tubuhmu
Biar rindu yang membuat perih dadamu masuk dalam dadaku
Lalu biarkan aku jadi sungai yang bebas menyusuri kelok-kelok dalam tubuhmu
Supaya membawa segala luka-luka
Yang lama tertahan

Atau biarkan aku jadi cangkir
Yang tampung segala didih cintamu
Biar kau tahu kema harus selalu pulang
Ambon – Januari 2015

Balada Negeriku
Tuan,
Negeri ini tak lagi mengenal hembus napasMu
Kedamaian hanyalah serupa nyanyian lama
Sunyi dan hampa
Bahkan ketika anak kecil tersedu kelaparan
Mereka selalu menyimpan telinga dan mata di balik kantong

Mungkin kala engkau jenuh disana, Tuan

Sudilah sesekali kunjungi kami dengan amukan kecil
Atau dengan cubitan nakal di pipi
Biar kami gemetar
Biar kami kembali telanjang dihadapanMu
2014

Kau
Kali lalu, kata-kataku keluar bagai pisau
Menghantam dadaMu hingga koyak
Kali lain, kuberi kau satu ciuman manis tepat di kaki
Untuk menutup luka yang kian lebar
Kegelapan begitu erat
Asin kian pekat pada hujan setahun ini
Hidup adalah perkara soal waktu dan kejadian
Yang sering berkejaran tak pernah lelah

Pagi ini aku sungguh tersedu
Tak lagi kujumpa bisikan hadirMu
Sungguh senyap
Sepi – Lenyap

Masohi, September 2014

 

 

 

 

Advertisements

One thought on “Sejumlah Puisi Lama

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s