Aside

Timeline, Pilkada dan Si Cepon

after_election_1076045                       dok gambar: https://www.toonpool.com/user/3816/files/after_election_1076045.jpg

Selama masa kampanye pilkada tiga bulan terakhir ini, timeline facebook dan twitter saya ngeri-ngeri sedap. Bagaimana tidak, semua sibuk ngebahas pilkada, mendukung para jagoannya, menghina para lawannya, sampe mengkaitkan segalanya dengan agama seakan negara ini tak lagi punya apa-apa untuk dibicarakan.
Timeline menjadi begitu panas apalagi soal pilkada Jakarta. Mereka yang dulunya teman saling unfollow dan buang muka. Timeline jadi semakin monoton, isinya melulu pilkada, putus cinta dan foto dengan kutipan kata-kata motivasi dari internet yang entah milik siapa.
Bahkan teman-teman saya yang banyak orang  di  Indonesia Timur seolah-olah hijrah pikirannya ke Jakarta untuk memberi pendapat mengenai pilkada Jakarta. Padahal untuk daerahnya sendiri mereka lempeng kaya papan.
Sebenarnya wajar saja dalam pilkada semua menjadi riuh dan rumit sendiri karena 15 Februari yang adalah tanggal sakral itu, orang-orang akan memilih pemimpinnya lima tahun  ke depan. Kalau salah pilih, maka lima tahun kehidupan mereka akan merana. Tapi kadang simpatisan calon tertentu jadi marah kalau ada yang tidak sependapat dengan mereka. Padahal pilihan adalah urusan pribadi kita dengan Tuhan.
Memilih pemimpin itu susah-susah gampang sih karena memang tidak ada pemimpin yang benar-benar ideal.Tapi pada dasarnya semua ingin pemimpin yang bisa membawa perubahan ke arah yang lebih baik.
Namun banyaknya kekurangan di calon pemimpin tak sepernuhnya dipedulikan oleh pemilih. Rakyat selalu bermimpi pemimpin ideal ada dan tim sukses hadir dengan sosok pemimpil yang sudah di poles sana sini. Hanya sedikit dari mereka yang berani tampil apa adanya. Akhirnya tidak sedikit pemilih yang mengenal calon pemimpin mereka dari kulitnya saja, berdasarkan kedekatan primodialisme dan agama.
Menjadi Seperti Cepon
Besok semua orang yang  memiliki hak pilih dan di daerahnya berlangsung perhelatan pilkada serentak akan menyalurkan hak pilihnya. Soal pilih memilih, saya teringat Cepon. Cepon adalah tokoh kerbau dalam cerpen “Tinggal Matanya Berkedip-Kedip” karangan Ahmad Tohari.
Cepon yang biasanya taat, kini berubah brutal di suatu musim penghujan. Tentu ini membuat pemiliknya kewalahan. Pemiliknya tersebut kemudian memanggil Masgepuk, seorang pawang yang terkenal di daerah itu untuk menjinakan peliharannya.
Masgepuk mulai melancarkan aksinya dari yang lembut sampai yang membuat darah bercucuran. Tapi pada akhirnya Masgepuk kecewa karena Cepon justru memilih untuk ambruk dan tak melawannya. Cepon memilih keinginannya sendiri dan tak mau bekerja sama dengan Masgepuk.
Kita mungkin juga harus seperti Cepon dalam memilih calon pemimpin. Bukan artinya kita ambruk dan tak berdaya melawan kepentingan politik busuk yang hanya menguntungkan segelintik orang.
Justru lebih tenang adalah pilihan yang baik. Kita melawan dalam diam lebih elegan lewat pilihan di dalam bilik pemungutan suara. Tidak peduli bujuk rayu murahan dan berapa banyaknya uang yang ditawarkan, sebagai orang yang cerdas kita harusnya tahu memilih orang yang tak akan menjadikan negara ini semakin kapital.
Kita juga tidak harus memilih karena terpengaruh pilihan orang tenar atau hanya atas nama membela suku, agama dan kedekatan kekerabatan. Kita memilih untuk diri kita sendiri.
Jadi sudah siap memilih sesuai hati? Gunakanlah kesempatan ini untuk melawan tirani dan kejahatan yang semakin merajala.
Kedaulatan ada di tangan kita dan kitalah penentu masa depan negeri ini. Dan untuk membuat dunia ini semakin buruk saja, seperti kata Wiji Thukul, Hanya ada satu kata : Lawan!

Selamat memilih 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s