Aside

Melihat Kekurangan

Presiden RI Joko Widodo akhirnya menyambangi Kota Ambon awal di bulan Februari tahun ini sebanyak dua kali. Yang pertama, beliau berkunjung untuk menghadiri puncak perayaan Hari Pers Nasional (HPN). Kemudian dalam pekan kemarin untuk membuka Tanwir Muhamadiyah. Memang kedatangan Presiden untuk menghadiri peristiwa monumental, yang kebetulan saja kali ini Maluku menjadi tuan rumahnya. Meskipun bersifat monumental, tetap saja bagi saya ini kenyataan yang menggembirakan.
Dibandingkan dengan presiden RI sebelumnya, Jokowi sepertinya lebih sering mengunjungi Maluku. Sejak menjadi presiden, terhitung sudah empat kali beliau ke Maluku. Satu kali di tahun 2015, satu kali lagi di tahun 2016 dan dua kali di tahun 2017.
Reaksi masyarakat di media sosial sangat beragam. Ada yang bangga luar biasa, ada yang tak berkomentar, ada juga kelompok yang senang sekali melihat kekurangan.
Kelompok terakhir yang saya sebutkan ini banyak berseliweran di timeline saya. Mereka bilang masyarakat Maluku tidak usah bereuforia terlalu tinggi, jangan terlalu banyak berharap.  Saya sedih juga. Karena buat saya kehadiran beliau itu dapat berarti kepedulian. Bukan semata-mata untuk mendulang suara untuk kepentingan pilpres. Presiden bisa memilih melakukan tugas lain, tapi toh beliau memilih hadir di Maluku. Orang-orang yang sering nyinyir itu, padahal dulu pro Jokowi. Memang orang-orang cepat berubah.
Saya ingin becerita sedikit mengenai perjuangan pemerintah Maluku untuk mewujudkan program pembangunannya. Tidak semudah membalikan telapak tangan. Setelah hampir sepuluh tahun dan anggota parlemen di Maluku gebrak-gebrak meja di Jakarta sana, pengakuan terhadap Participating of Interest (PI) 10 persen Blok Masela baru dimiliki saat masa pemerintahan Jokowi.
Memang untuk memperjuangkan program di Jakarta itu ngeri-ngeri sedap juga. Jadi beruntunglah kalau presiden main-main ke provinsi kalian. Tengok saja, sepulangnya Jokowi untuk menghadiri HPN, beliau telah menyetujui 11 program prioritas untuk Maluku. Bukankah berkah kalau beliau sering-sering datang ke Maluku? Ah, mata kita kadang hanya tercipta untuk melihat kekurangan.

Gelar Adat
Saat kedatangan  presiden saat pembukaan Tanwir Muhamadiyah Jumat, 24 Februari lalu, Presiden diberikan gelar “Upu Kalatia Kanalean Da Ntul Po Deyo Routnya Hnulho Maluku” artinya Bapak Pemimpin Besar yang Peduli Terhadap Kesejahteraan Hidup Masyarakat Maluku.
Disaat hampir semua media lokal dan nasional mengeapressiasi pemberian gelar adat itu, lagi-lagi timeline  media sosial saya menghujat Jokowi dan pemerintah Maluku. Mereka bilang itu mubazir dan Jokowi tak cocok. Netizen lokal bereaksi keras mengkritisi Latupati yang memberi gelar. Katanya harga diri Maluku telah digadaikan. Bahkan ada yang nyerimpit terhadap simbol budaya, suku dan agama tanpa memiliki dasar pikir yang kuat.
Saya merasa ngeri.
Disaat pemerintah pusat mulai melirik dan pemerintah daerah mulai berjuang agar Maluku bisa dibangun, masyarakat di dalamnya malah apatis. Kadang sok kritis tapi tak berisi. Apa sih maunya? Kalau gak diperhatikan, ngambek. Diperhatikan malah selalu cari kekurangan. Yaelah. Macam cinta anak ABEGE aja. Yawlah.
Yang saya yakini cuma satu dari gelar adat itu, bahwa ada beban yang masyarakat Maluku titipkan di pundak pak Jokowi untuk mensejahterakan Maluku. Ada banyak PR yang terus harus diperjuangkan. Misal terbitnya Perpres mengenai Lumbung Ikan Nasional (LIN), terwujudnya provinsi Kepulauan dan lain-lain.
Kalau anda mau menjadi seorang yang keras mengkritsi pemerintah ini, tirulah Moliere dan buatlah karya sesatir Tartuffe yang mengkritisi Gereja Katolik Roma sekitar tahun 1665. Anda akan terlihat berkelas daripada hanya sepenggal status di media sosial yang akan hilang ditelan video-video terbaru Awkarin yang mungkin nanti pake beha transparan.

Advertisements

6 thoughts on “Melihat Kekurangan

  1. Wkwkw….. Kalau awkarin pake bh transparant saya baru mau lihat videonya.

    Ya maklum aja mbak, masyarakat indonesia itu banyak yg kurang pendidikan jadi klo bicara ya ngasal tanpa dasar ilmu. Sabar aja.

  2. Haha. Endingnya kenapa gak mutu banget ‘tokohnya’. Kalau orang udah gak suka, mau baik atau buruk tetap aja salah. No wonder di timeline buanyak banget yang mengkritisi tapi kan kita jadi tau dengan sangat mudah kualitas orang2 di timeline kita.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s